![]() |
| Sekjen Taj Yasin |
inijabar.com, Jakarta- Ketegangan di tubuh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kian terbuka ke publik dari mulai daerah sampai pengurus pusat.
Dari Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) se-Indonesia polemik muncul, kali ini mengarah langsung ke pusat kekuasaan partai, mendesak Ketua Umum Muhamad Mardiono untuk segera mengevaluasi hingga mengganti Sekretaris Jenderal, Taj Yasin.
Desakan itu bukan sekadar dinamika biasa, melainkan sinyal kuat adanya friksi serius antara struktur daerah dan elit Dewan Pimpinan Pusat (DPP). Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) daring yang digelar Kamis (16/4/2026), para pimpinan DPW secara terbuka melontarkan kritik tajam terhadap kinerja Sekjen yang dinilai tak lagi sejalan dengan arah kepemimpinan partai.
Ketua DPW PPP DKI Jakarta, Saiful Rahmat Dasuki, menjadi salah satu suara paling keras. Ia menyebut adanya “oknum” di lingkaran DPP yang justru menjadi penghambat jalannya organisasi.
Bahkan, sejak terbitnya Surat Keputusan dari Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia, Sekjen disebut tidak menjalankan fungsi strategisnya dalam mengelola organisasi.
“Sekjen memiliki fungsi menjalankan tata kelola organisasi. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ini bentuk perlawanan terhadap organisasi,” tegas Saiful.
Pernyataan tersebut mempertegas tudingan bahwa konflik di PPP bukan sekadar perbedaan pandangan, melainkan sudah masuk pada level pembangkangan struktural.
Sejumlah DPW menilai langkah-langkah yang diambil Sekjen bersifat inkonstitusional dan berpotensi melumpuhkan mesin partai dari dalam.
Situasi ini memperlihatkan jurang yang semakin lebar antara kepentingan daerah dan pusat. DPW merasa tidak dilibatkan secara utuh dalam arah kebijakan partai, sementara di sisi lain DPP dinilai gagal menjaga soliditas internal.
Jika tidak segera direspons, konflik ini berpotensi merusak konsolidasi PPP menjelang agenda politik ke depan. Tekanan kini berada di tangan Mardiono: memilih meredam konflik dengan langkah tegas, atau membiarkan friksi ini berkembang menjadi krisis kepemimpinan yang lebih dalam.(*)



