Anggota Komisi III DPRD Jabar Faisyal Sebut Tantangan Ekonomi Jawa Barat Masih Mengintai

Redaktur author photo

 

Anggota Komisi 3 DPRD Jabar Ahmad Faisyal Hermawan (baju biru)


inijabar.com, Kota Bekasi- Meski pertumbuhan ekonomi Jawa Barat di Triwulan 1 tahun 2026 melampaui nasional, sejumlah tantangan masih membayangi. 

Demikian dikatakan Anggota Komisi III DPRD Jawa Barat Ahmad Fasiyal Hermawan saat menyoroti ekonomi di Jawa Barat. 

Faisyal menjelaskan tantangan yang masih membayangi mulai dari ketidakpastian ekonomi global, potensi pelemahan ekspor industri, hingga ancaman penurunan daya beli masyarakat apabila inflasi kembali meningkat.

"Namun untuk saat ini, kombinasi sektor industri, konsumsi rumah tangga, dan stabilitas harga energi masih menjadi fondasi utama yang menjaga ekonomi Jawa Barat tetap tumbuh positif pada awal 2026,"ujarnya. Jumat (15/5/2026)

Kabar positif juga datang dari sektor ketenagakerjaan. Pada Februari 2026, jumlah penduduk bekerja di Jawa Barat mencapai 25,10 juta orang atau naik sekitar 110 ribu orang dibanding Februari 2025.

Politisi asal PDI Perjuangan ini juga mengaku senang ketika jumlah penyerapan tenaga kerja naik. 

Lapangan usaha perdagangan besar dan eceran menjadi sektor dengan penyerapan tenaga kerja terbesar, yakni mencapai 5,47 juta orang atau sekitar 21,81 persen dari total pekerja di Jawa Barat.

"Kondisi ini memperlihatkan aktivitas perdagangan dan konsumsi masyarakat masih menjadi penggerak utama ekonomi daerah,"kata Faisyal.

Sekedar diketahui BPS (Badan Pusat Statistik) Jabar menyebut ekonomi Provinsi pada triwulan I 2026 mencatat pertumbuhan sebesar 5,79 persen secara year on year (y-on-y) dibanding periode yang sama tahun 2025. Angka ini lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,61 persen.

Selain tumbuh secara tahunan, ekonomi Jawa Barat juga mengalami kenaikan sebesar 0,24 persen secara quarter to quarter (q-to-q) dibanding triwulan IV 2025. Kondisi ini menunjukkan aktivitas ekonomi di Jawa Barat masih bergerak positif di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Menurut Kepala BPS (Badan Pusat Statistik) Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, bahwa pertumbuhan ekonomi Jawa Barat saat ini ditopang kuat oleh konsumsi rumah tangga dan aktivitas industri.

Industri Jadi Penyumbang Pertumbuhan Ekonomi Terbesar di Jawa Barat

Margaretha juga menyatakan, dari sisi lapangan usaha, sektor industri pengolahan menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar dengan andil mencapai 1,65 persen. Posisi Jawa Barat sebagai kawasan industri nasional masih menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

Selain industri, sejumlah sektor lain juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Jabar, di antaranya:

  • Transportasi dan pergudangan: 0,81 persen
  • Informasi dan komunikasi: 0,58 persen
  • Akomodasi serta makan minum: 0,51 persen
  • Perdagangan besar dan eceran: 0,45 persen

Pertumbuhan sektor transportasi dan kuliner menunjukkan mobilitas masyarakat dan aktivitas konsumsi mulai meningkat sepanjang awal tahun 2026.

Konsumsi Rumah Tangga Jadi Mesin Utama Ekonomi Jabar

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi mencapai 3,27 persen.

Besarnya jumlah penduduk di Jawa Barat membuat daya beli masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Selain konsumsi rumah tangga, pertumbuhan ekonomi juga didukung oleh:

  • Konsumsi pemerintah: 1,82 persen
  • Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB): 1,06 persen
  • Konsumsi LNPRT: 0,04 persen

Menurut Margaretha, kekuatan konsumsi masyarakat menjadi modal utama Jawa Barat untuk tetap tumbuh di tengah tekanan global.

“Konsumsi rumah tangga dengan besarnya penduduk Jabar menjadi kekuatan untuk pertumbuhan ekonomi saat ini,” ujarnya.

Harga BBM Stabil Dinilai Bantu Pertumbuhan Ekonomi

BPS Jawa Barat juga menilai kebijakan pemerintah yang tidak menaikkan harga BBM subsidi turut membantu menjaga pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat.

Di tengah tensi geopolitik global akibat konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, stabilitas harga energi dinilai mampu menahan tekanan inflasi di daerah.

Kondisi tersebut membuat aktivitas industri, distribusi barang, hingga konsumsi masyarakat tetap berjalan relatif stabil selama triwulan pertama 2026.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini