Dua Kali Lelang Gagal, Tol Getaci Terancam Jadi Proyek Mangkrak Nasional

Redaktur author photo

inijabar.com, Kota Tasikmalaya- Proyek Jalan Tol Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap atau Proyek Tol Getaci kembali menjadi sorotan tajam setelah dua kali proses lelang proyek strategis nasional tersebut gagal mendapatkan investor yang benar-benar siap mengeksekusi pembangunan.

Kegagalan berulang itu dinilai bukan lagi sekadar persoalan teknis lelang, melainkan cerminan lemahnya strategi pemerintah dalam membaca realitas ekonomi proyek infrastruktur raksasa yang membentang dari Bandung hingga Cilacap.

Alih-alih menghadirkan formula baru, pemerintah dinilai hanya mengulang pola lama: membuka lelang, mencari investor, lalu gagal kembali ketika masuk tahap pembiayaan. Situasi tersebut memunculkan kritik bahwa proyek Tol Getaci mulai terjebak dalam siklus stagnasi tanpa kepastian.

Investor Mundur, Financial Close Jadi Titik Lemah

Pada lelang pertama, proyek Tol Getaci sebenarnya sempat memiliki pemenang konsorsium. Namun harapan itu runtuh karena pihak investor gagal menuntaskan kewajiban pembiayaan atau financial close.

Masalah financial close menjadi indikator penting bahwa proyek ini sejak awal dianggap terlalu berat secara bisnis. Nilai investasi jumbo, panjang trase yang ekstrem, hingga proyeksi lalu lintas kendaraan yang belum sepenuhnya meyakinkan membuat investor berhitung ulang.

Ketika pemerintah membuka lelang kedua, situasi justru tidak membaik. Minat investor tetap rendah dan proyek kembali gagal mendapatkan peminat serius.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa problem utama Tol Getaci bukan sekadar administrasi tender, tetapi menyangkut keekonomian proyek yang dianggap belum cukup menarik bagi swasta.

Pemerintah Dinilai Kehabisan Terobosan

Sorotan kini mengarah pada pola pemerintah yang dianggap terus-menerus mengulang proses lelang tanpa strategi baru yang konkret.

Sejumlah pengamat menilai pemerintah terlalu memaksakan skema megaproyek penuh hingga Cilacap, padahal kondisi fiskal dan minat investasi sedang mengalami tekanan.

Dalam situasi seperti itu, memprioritaskan pembangunan ruas hingga Tasikmalaya dinilai menjadi opsi paling realistis dibanding mempertahankan ambisi panjang penuh yang justru membuat proyek terus tertunda.

Pendekatan bertahap dianggap lebih masuk akal karena dapat menekan beban investasi awal sekaligus meningkatkan peluang investor untuk masuk. Selain itu, ruas Bandung-Garut-Tasikmalaya dipandang memiliki potensi mobilitas dan pertumbuhan ekonomi yang lebih jelas dibanding melanjutkan langsung hingga Cilacap.

Risiko Besar Jika Tol Getaci Terus Mandek

Jika proyek ini kembali berlarut tanpa kepastian, pemerintah menghadapi risiko besar terhadap citra proyek strategis nasional.

Tol Getaci selama ini dipromosikan sebagai salah satu proyek konektivitas terbesar di Pulau Jawa bagian selatan. Namun kegagalan lelang berulang justru memunculkan persepsi bahwa proyek tersebut terlalu ambisius dan tidak matang secara kalkulasi bisnis.

Di sisi lain, masyarakat Jawa Barat selatan yang sejak lama menunggu percepatan infrastruktur mulai mempertanyakan keseriusan realisasi proyek tersebut.

Publik melihat pembangunan jalan tol bukan hanya soal seremoni penetapan proyek strategis nasional, melainkan keberanian pemerintah mengambil keputusan realistis agar proyek benar-benar berjalan.

Fokus Sampai Tasikmalaya Jadi Jalan Tengah

Opsi memfokuskan pembangunan hanya sampai Tasikmalaya mulai dianggap sebagai jalan tengah paling rasional.

Strategi itu dapat menjadi “penyelamatan” proyek agar tidak terus menjadi wacana tanpa eksekusi. Pemerintah juga dinilai perlu mengubah pendekatan dari proyek ambisius berskala penuh menjadi pembangunan bertahap berbasis prioritas ekonomi.

Jika tetap memaksakan trase penuh hingga Cilacap tanpa investor kuat, Tol Getaci berpotensi menjadi contoh kegagalan proyek infrastruktur raksasa akibat perencanaan yang tidak adaptif terhadap realitas pasar.

Kini bola panas berada di tangan pemerintah: tetap mengulang lelang tanpa kepastian atau segera mengubah strategi sebelum proyek Tol Getaci benar-benar kehilangan kepercayaan investor dan publik.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini