![]() |
| Jalan warga ke kebun di kawasan wisata Ciater yang ditutup Gracia Spa and Resort |
inijabar.com, Subang - Konflik akses jalan kembali memicu keresahan warga di kawasan wisata Ciater, Kabupaten Subang. Sejumlah masyarakat dan petani kebun mengaku tidak lagi bisa masuk ke lahan garapan mereka setelah jalan yang disebut milik desa ditutup permanen menggunakan pagar besi oleh pihak Gracia Spa and Resort.
Penutupan jalan tersebut memicu protes warga karena akses itu disebut telah digunakan puluhan tahun sebagai jalur keluar masuk menuju kebun.
Tidak hanya jalan yang ditutup, warga juga mengaku jembatan penghubung menuju area kebun dibongkar tanpa adanya sosialisasi maupun pemberitahuan sebelumnya kepada masyarakat.
“Kami kaget tiba-tiba jalan ditutup pagar besi. Jembatan juga dibongkar. Padahal itu akses utama warga menuju kebun sejak lama,” ujar salah satu warga Ciater, Jumat (15/5/2026).
Menurut warga, keberadaan akses jalan tersebut sangat vital bagi aktivitas para petani. Penutupan jalur dinilai menghambat mata pencaharian masyarakat yang sehari-hari bergantung pada hasil kebun.
Warga pun meminta perhatian serius dari Dedi Mulyadi serta Wakil Gubernur Jawa Barat agar segera turun tangan menyelesaikan persoalan tersebut. Mereka berharap pemerintah provinsi dapat membuka kembali akses jalan yang selama ini dipakai masyarakat.
“Kami mohon bantuan Pak KDM dan Wagub Jabar. Tolong buka kembali jalan warga. Ini akses masyarakat kecil mencari nafkah,” kata warga lainnya.
Di lokasi penutupan jalan, pihak manajemen hotel diketahui memasang papan pemberitahuan yang menyatakan area tersebut merupakan bagian dari kerja sama dengan PT Perkebunan Nusantara I atau PTPN.
Namun, keberadaan kerja sama itu justru menimbulkan tanda tanya di kalangan warga. Mereka mempertanyakan alasan akses yang selama ini digunakan masyarakat harus ditutup apabila memang ada kerja sama pengelolaan lahan.
“Kalau memang ada kerja sama dengan PTPN, kenapa masyarakat yang jadi korban? Jalan warga malah ditutup,” ungkap seorang petani.
Hingga kini belum ada penjelasan resmi dari pihak pengelola Gracia Spa and Resort terkait penutupan akses jalan maupun pembongkaran jembatan tersebut.
Kasus ini menjadi sorotan karena menyangkut hak akses masyarakat terhadap lahan pertanian yang telah digunakan secara turun-temurun. Warga berharap pemerintah daerah, aparat desa, hingga instansi terkait segera memfasilitasi mediasi agar konflik tidak semakin meluas.(*)



