![]() |
| Ilustrasi |
inijabar.com, Kota Bekasi – Wacana penggunaan bahasa Inggris di kalangan ASN Pemkot Bekasi mendadak jadi bahan obrolan hangat. Bukan karena prestasi, tapi karena… ya itu, salah tafsir di mana-mana.
Pernyataan klarifikasi dari Nesan Sunjana justru memantik reaksi publik. Alih-alih meredam polemik soal kinerja Linmas, pernyataannya malah dianggap “nyenggol” isu lain: soal komunikasi yang nggak nyambung.
Dalam rekaman voice note yang beredar, Nesan melontarkan kalimat yang langsung jadi bahan guyonan:
“Kasi Linmas jangan cuma tabla teble pada saat-saat tertentu saja anda rajin. Coba lihat, emang ga ada Linmas-nya satu pun,"ujar rekaman suara Nesan.
Publik pun bertanya-tanya: “Tabla teble” ini maksudnya apa? Bahasa Betawi Bekasi saja sudah bikin mikir dua kali, apalagi kalau langsung lompat ke bahasa Inggris?
Bahasa Keren vs Bahasa Ngerti
Di tengah dorongan modernisasi birokrasi, penggunaan bahasa Inggris di lingkungan ASN memang sering digaungkan.
Bahkan, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto beberapa waktu lalu sempat mendorong peningkatan kapasitas aparatur, termasuk dalam komunikasi global.
Tapi, kasus ini seperti jadi contoh nyata: komunikasi itu bukan soal gaya, tapi soal dipahami.
Kalau internal saja masih multitafsir, publik jadi makin bingung. Alih-alih terlihat profesional, yang muncul justru kesan “gegayaan tapi nggak kena”.
Linmas Jadi Korban Narasi?
Di sisi lain, polemik ini juga menyeret peran Linmas. Selama ini, Linmas kerap dipandang sebelah mata. Padahal mereka punya fungsi penting dalam menjaga ketertiban lingkungan.
Sayangnya, pernyataan yang dilontarkan malah terkesan menyudutkan. Bukannya memperkuat peran Linmas, narasi yang muncul justru seolah menyalahkan tanpa konteks utuh.
Netizen: “Yang Penting Nyambung, Pak!”
Di media sosial, respons publik cenderung jenaka tapi pedas. Banyak yang menilai, sebelum bicara soal bahasa Inggris, ada baiknya komunikasi dasar diperbaiki dulu.
“Ngomong Betawi aja masih beda tafsir, mau naik level ke Inggris?” tulis salah satu netizen.
Ada juga yang menyindir: “Ini bukan soal bahasa Inggris, tapi bahasa yang dimengerti.”
Pelajaran dari Bekasi
Kasus ini bisa jadi pengingat sederhana tapi penting: komunikasi publik itu soal kejelasan, bukan sekadar gaya.
ASN memang dituntut adaptif dan modern. Tapi kalau pesan tidak sampai, yang ada justru blunder komunikasi.
Jadi, sebelum “How are you”, mungkin yang lebih penting adalah: “Ngomongnya udah dipahami belum?”. (*)



