![]() |
| Penggunaan Drone untuk penyemprotan pupuk cair organik dinilai lebih cepat |
inijabar.com, Ciamis - Penerapan pengelolaan pertanian ramah lingkungan berbasis teknologi modern menjadi visi Pemkab Ciamis. Salah satunya melalui praktik penyemprotan pupuk organik menggunakan drone pertanian di wilayah Kelurahan Cigembor.
Hal itu merupakan bagian dari pengembangan pertanian organik yang kini mulai masif diterapkan oleh para petani di Ciamis. Teknologi drone dimanfaatkan untuk mempercepat proses penyemprotan pupuk cair organik berbahan mikroorganisme lokal (MOL) hasil racikan masyarakat setempat.
Menurut Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis, Andang Firman Triyadi, bahwa lahan yang digunakan dalam praktik penyemprotan mencapai sekitar 1 hektare 8 bata tanah bengkok yang dikelola bersama masyarakat.
“Hari ini kita mempraktikkan bagaimana teknologi drone digunakan untuk pemupukan dengan memanfaatkan mikroorganisme lokal yang dibuat sendiri oleh masyarakat. Bahannya dari bonggol pisang dan rebung, dengan harapan mampu memperkuat akar dan batang tanaman,” ujarnya. Rabu (13/5/2026)
Menurut Andang, pengembangan pertanian ramah lingkungan di Ciamis terus menunjukkan perkembangan positif. Hingga Desember lalu, sekitar 70 hektare lahan telah menerapkan sistem pertanian organik, baik yang sudah bersertifikat maupun yang masih dalam tahap pengembangan.
“Alhamdulillah sekarang penggiat pertanian ramah lingkungan di Kabupaten Ciamis sudah cukup masif. Mudah-mudahan semakin banyak petani yang beralih memanfaatkan sumber daya lokal untuk membuat pupuk dan kompos sendiri,” katanya.
Andang menambahkan, Pemerintah Kabupaten Ciamis juga telah mendeklarasikan diri menuju kabupaten organik dengan memanfaatkan potensi hijauan dan kotoran hewan yang tersedia di berbagai wilayah.
Selain itu, penggunaan drone dinilai mampu meningkatkan efisiensi kerja petani. Penyemprotan lahan yang biasanya memerlukan waktu lama secara manual kini dapat diselesaikan dalam waktu singkat.
“Ini masih tahap uji coba, termasuk pola pemanfaatan dan regulasinya. Nanti akan diatur bagaimana sistem sewa, efektivitas, dan penggunaannya agar benar-benar membantu petani,” tambahnya.
Sementara itu, Lurah Cigembor, Nandra Orlando menjelaskan, seluruh pupuk yang digunakan berasal dari hasil produksi mandiri kelompok tani organik setempat.
“Karena konsepnya pertanian organik, pupuknya dibuat sendiri. Untuk penyemprotan kali ini menggunakan campuran mikroorganisme lokal dari rebung, nasi, hingga bahan organik lainnya,” terangnya.
Nandra menyebut proses pembuatan pupuk organik membutuhkan waktu sekitar satu hingga tiga minggu sebelum siap digunakan di lahan pertanian.
Drone yang digunakan dalam kegiatan tersebut merupakan bantuan pinjaman dari Dinas Pertanian sebagai upaya mengenalkan teknologi modern kepada petani di Cigembor.
“Tujuannya untuk mengenalkan teknologi pertanian. Dengan drone, penyemprotan lebih cepat dan efisien. Untuk lahan lebih dari satu hektare ini bahkan tidak sampai satu jam,” ungkap Nandra.
Menurutnya, penerapan pertanian organik memang membutuhkan proses belajar dan tenaga ekstra karena seluruh kebutuhan pupuk hingga pengolahan lahan dilakukan secara mandiri oleh petani.
Meski demikian, ia berharap pertanian organik mampu memberikan hasil panen maksimal sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.
“Harapannya masyarakat bisa beralih ke pertanian organik dan menyadari bahwa pupuk tidak harus selalu membeli, tetapi bisa dibuat sendiri dari bahan yang ada di sekitar,” tandasnya.(diki)



