3 Partai yang Berpotensi Bikin Karier Politik H. Sholihin Cemerlang di 2030, Jika Incar DPR RI Dapil Bekasi-Depok

Redaktur author photo
Ilustrasi

inijabar.com, Kota Bekasi– Pasca bertarung di Pilkada 2024 sebagai calon wakil walikota Bekasi mendampingi calon walikota Bekasi Heri Koswara. Kini karir politik H.Sholihin mulai menurun seiring dinamika internal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang telah membesarkannya di Kota Bekasi.

Karir politik nya pun semakin menurun usai tidak menjabat lagi sebagai Ketua DPC PPP Kota Bekasi dicopot. 

Namun sebagai tokoh politik yang sudah cukup matang apalagi pengalaman sebagai anggota DPRD Kota Bekasi selama lebih dari dua periode. Sosok H.Sholihin cukup punya prospek cerah dalam karir politiknya terutama di momen Pemilu tahun 2030 nanti.

Jika orientasi politik H. Sholihin digeser dari kontestasi lokal Pilkada menuju Pemilu Legislatif DPR RI tahun 2030, maka pertanyaan besarnya bukan lagi apakah ia bisa bertarung, melainkan partai mana yang paling mampu mengantarnya ke Senayan dari Dapil Jawa Barat VI yang meliputi Kota Bekasi dan Kota Depok.

Dapil ini pasti pilihan utamanya untuk bertarung meskipun bukan wilayah ringan. Bekasi–Depok adalah arena padat tokoh, padat pemilih urban, dan padat persaingan antarpartai. 

Pada Pemilu 2024 total 6 kursi yang tersedia, peta kursi DPR RI di dapil ini diisi oleh PKS dua kursi, lalu Golkar, Gerindra, PDIP, dan PKB masing-masing satu kursi. 

Dari tiga opsi partai yang paling sering dikaitkan dengan prospek politik H. Sholihin analisa potensi bisa ke PSI, Gerindra, atau PAN.

Tentu saja analisa ini bukan berarti partai lain di luar ketiga parpol tersebut tidak punya potensi untuk dijelajahi pria yang akrab disapa Gus Shol ini. Dan sebagai sahabat baik tentunya penulis punya analisa dan pandangan yang mungkin bisa jadi refrensi bagi H.Sholihin untuk berkiprah politik ke depannya.

Dalam komposisi suara partai Caleg DPR RI 2024, dari ketiga partai tersebut yakni Gerindra berada di papan atas dengan 268.517 suara, PAN mengoleksi 168.637 suara, sementara PSI belum menembus kursi DPR RI namun tetap punya jejak elektoral di kawasan urban Bekasi-Depok.

PSI yang akan menampilkan sosok Jokowi di Pemilu 2030 sangat menjanjikan meningkat  perolehan suara baik di tingkat II, I sampai DPR RI. 

Partai yang berubah logo menjadi 'gajah' ini memberi ruang besar untuk menjadi partai yang akan bersinar di 2030.

Sedangkan Gerindra bagi H.Sholihin menawarkan kendaraan paling realistis untuk mengejar kursi, sementara PAN bisa menjadi jalur yang paling kompatibel dengan karakter basis politik Sholihin.

Jika targetnya adalah caleg DPR RI 2030 dari Bekasi-Depok, maka tiga partai ini layak dibaca sebagai tiga skenario masa depan.

Bekasi-Depok: Dapil Urban yang Keras, Tapi Menarik untuk Figur Lokal

Dapil Jawa Barat VI adalah salah satu dapil paling kompetitif di Jawa Barat. Kota Bekasi dan Kota Depok sama-sama dihuni pemilih urban dengan karakter yang tidak tunggal: ada pemilih religius, kelas menengah perkotaan, komunitas akar rumput, hingga pemilih pragmatis yang menimbang figur dan akses kekuasaan.

Hasil Pileg 2024 memperlihatkan betapa ketatnya persaingan di dapil ini. PKS masih menjadi penguasa utama dengan dua kursi, tetapi partai-partai lain tetap mampu mencuri satu slot berkat figur kuat dan mesin yang bekerja rapi. Gerindra berhasil mempertahankan relevansinya lewat kursi Nuroji, sementara PAN meski 2024 gagal mengamankan kursi DPR RI tetap mencatat suara yang tidak kecil untuk ukuran partai lapis kedua di dapil ini.

[cut]


Artinya, siapa pun yang ingin menembus Senayan dari Bekasi-Depok pada 2030 harus memiliki dua hal sekaligus: basis suara nyata di Bekasi dan kemampuan menjangkau Depok. 

Menang di satu kota saja tidak cukup. Dalam konteks itu, H. Sholihin menarik dibahas karena ia punya modal awal sebagai figur Bekasi yang sudah punya jejak di panggung politik lokal.

Mengapa Nama H. Sholihin Layak Dihitung untuk 2030?

Secara politik, H. Sholihin punya satu modal yang tidak dimiliki semua tokoh lokal: ia sudah pernah masuk radar partai nasional di level Pilkada. 

Pada Pilkada Kota Bekasi 2024, PSI sempat mengeluarkan surat tugas untuk pasangan Tri Adhianto–H. Sholihin. Dan terkahir surat rekomendasi  untuk pasangan Heri Koswara-H.Sholihin.

Surat tugas dan rekomendasi itu penting secara politik karena menunjukkan bahwa Sholihin pernah dipandang layak menjadi bagian dari proyek elektoral partai nasional, bukan sekadar pemain lokal pinggiran. 

Di luar itu, Sholihin juga punya keuntungan dari sisi citra. Ia bisa dibaca sebagai figur yang berpotensi menjangkau pemilih religius perkotaan, namun tidak sepenuhnya terjebak dalam ceruk ideologis yang sempit. 

Di Bekasi, model figur seperti ini punya nilai lebih, karena kontestasi politik tidak hanya ditentukan oleh identitas keagamaan, tetapi juga oleh kedekatan sosial, jaringan lokal, dan kemampuan bernegosiasi dengan banyak spektrum pemilih.

Jika diarahkan ke DPR RI 2030, maka pertanyaan paling penting bukan apakah H. Sholihin punya peluang, melainkan partai mana yang paling tepat untuk mengubah modal lokalnya menjadi kursi nasional.

1. PSI, Jalan Cepat untuk Jadi Wajah Utama Partai

Di antara tiga opsi itu, PSI adalah kendaraan yang paling menarik jika H. Sholihin ingin membangun karier politik yang cepat menonjol secara personal. Partai ini punya satu kelebihan yang tidak dimiliki partai mapan: ruang kosong untuk figur lokal menjadi etalase utama partai di daerah.

Kedekatan politik Sholihin dengan PSI setidaknya pernah terlihat saat partai tersebut memberikan surat rekomendasi untuk duet Heri Koswara–H. Sholihin pada Pilkada Bekasi 2024. Fakta ini membuat PSI bukan sekadar opsi teoritis, melainkan partai yang pernah membuka pintu politik bagi Sholihin.

Secara elektoral, PSI memang belum bisa disejajarkan dengan partai besar di Dapil Bekasi-Depok. Namun justru di situlah letak peluangnya. Jika masuk PSI, H. Sholihin berpotensi tidak hanya menjadi caleg, tetapi menjadi ikon PSI di Kota Bekasi, figur senior lokal yang mengisi ruang yang selama ini belum sepenuhnya dimiliki PSI, yakni koneksi ke pemilih religius, jaringan tokoh komunitas, dan basis sosial tradisional.

Untuk proyek DPR RI 2030, keuntungan PSI bagi Sholihin ada pada aspek branding. PSI sangat cocok untuk strategi jangka panjang yang bertumpu pada media sosial, pencitraan urban, dan penempatan figur sebagai representasi perubahan. 

Di Bekasi, PSI juga punya jejak di level lokal, termasuk perolehan 2 kursi DPRD Kota Bekasi pada 2024, yang menunjukkan bahwa partai ini bukan nol sama sekali di wilayah tersebut. 

Tetapi, di saat yang sama, PSI adalah opsi paling berisiko. Masalah utamanya sederhana: partai ini belum terbukti sebagai mesin yang cukup kuat untuk mengamankan kursi DPR RI di dapil sekeras Bekasi-Depok.

Jika Sholihin memilih PSI, maka ia harus siap bukan hanya bertarung sebagai caleg, tetapi sekaligus menjadi lokomotif pembesaran partai di dapil. Dengan kata lain, PSI menawarkan peluang besar untuk melesat, tetapi juga risiko besar untuk gagal.

Mengapa PSI menarik untuk H. Sholihin?

Pernah membuka ruang politik untuk Sholihin melalui surat rekomendasi Pilkada Bekasi 2024.

[cut]


Memberi peluang besar untuk menjadi wajah utama partai di Bekasi.

Cocok untuk strategi branding personal 2026–2030.

Apa kelemahan PSI?

Belum terbukti cukup kuat merebut kursi DPR RI di Dapil Bekasi-Depok.

Membutuhkan kerja dobel: membangun suara pribadi sekaligus membesarkan partai.

2. Gerindra, Kendaraan Paling Realistis Jika Targetnya Kursi

Kalau ukuran utamanya adalah peluang menang kursi DPR RI, maka Gerindra adalah opsi paling realistis untuk H. Sholihin. Alasan utamanya jelas: Gerindra sudah terbukti bisa menang di Dapil Bekasi-Depok.

Pada Pemilu 2024, Gerindra meraih 268.517 suara di Dapil Jabar VI dan mengamankan satu kursi DPR RI lewat Nuroji. Ini menandakan bahwa Gerindra punya mesin partai, jaringan, dan basis pemilih yang sudah bekerja di dapil ini. 

Bagi seorang figur lokal seperti Sholihin, masuk ke partai yang sudah punya kursi tentu jauh lebih rasional ketimbang memulai dari kendaraan yang belum teruji. 

Keuntungan terbesar Gerindra bukan semata soal suara partai, melainkan soal infrastruktur pemenangan. Kontestasi DPR RI di dapil urban besar tidak bisa hanya mengandalkan popularitas personal. Dibutuhkan struktur saksi, pengorganisasian wilayah, distribusi logistik politik, hingga penetrasi dua kota sekaligus. Di titik ini, Gerindra jelas lebih siap dibanding PSI maupun PAN.

Selain itu, Gerindra juga punya fleksibilitas ideologis yang cukup lebar. Partai ini bisa masuk ke pemilih nasionalis, religius moderat, hingga pemilih yang dekat dengan figur nasional partai. Buat Sholihin, ini berarti ia tidak perlu terlalu memaksakan reposisi citra; cukup mengonsolidasikan basis Bekasi lalu menumpang pada mesin partai untuk ekspansi ke Depok.

Namun, ada satu persoalan besar: kompetisi internal. Gerindra bukan partai kosong. Jika Sholihin masuk, ia harus berhadapan dengan realitas bahwa partai ini sudah punya kader mapan, tokoh lama, dan figur yang lebih dulu bercokol di dapil. Risiko terbesarnya adalah Sholihin hanya menjadi vote getter pelengkap, bukan kandidat utama yang dipersiapkan merebut kursi.

Karena itu, Gerindra hanya menjadi opsi ideal jika H. Sholihin bisa masuk dengan bargaining power tinggi: entah karena membawa basis suara riil, dukungan elite, atau kesepakatan internal yang menjamin posisinya kompetitif.

Mengapa Gerindra paling realistis?

Sudah punya kursi DPR RI di Dapil Bekasi-Depok.

Memiliki mesin pemenangan yang jauh lebih siap.

Cocok untuk figur yang ingin mengonversi basis lokal menjadi kursi nasional.

Apa masalahnya?

Persaingan internal sangat keras.

Tanpa posisi tawar yang kuat, Sholihin bisa hanya menjadi penambah suara partai.

3. PAN, Jalur Paling Natural untuk Basis Religius-Urban

Jika PSI adalah opsi paling berani dan Gerindra paling realistis, maka PAN bisa dibaca sebagai jalur paling natural untuk H. Sholihin. Mengapa? Karena secara sosiologis, PAN memiliki irisan yang cukup dekat dengan profil politik yang mungkin bisa dimainkan Sholihin: religius, urban, cair, dan tidak terlalu kaku secara ideologis.

Pada Pileg DPR RI 2024 di Dapil Jabar VI, PAN mengumpulkan 168.637 suara. Angka ini memang belum cukup untuk merebut kursi, tetapi menunjukkan bahwa PAN tetap punya ceruk pemilih yang hidup di Bekasi-Depok. Bahkan secara suara personal, Intan Fauzi dari PAN menembus 93.447 suara, yang menandakan bahwa PAN masih bisa kompetitif bila ditopang figur yang tepat.

Bagi H. Sholihin, PAN menarik karena partai ini tidak sepadat Gerindra dalam kompetisi internal, tetapi juga tidak sespekulatif PSI. Ruang untuk menjadi figur utama partai di Bekasi relatif lebih terbuka. Jika ia masuk lebih awal dan diberi panggung yang cukup, PAN bisa menjadi kendaraan yang memungkinkan Sholihin membangun jalur bertahap: menguasai basis Bekasi lebih dulu, lalu memperluas pengaruh ke Depok.

Keunggulan lain PAN adalah fleksibilitas elektoralnya. PAN bisa diterima di pemilih Muslim perkotaan, komunitas aktivis sosial, hingga pemilih kelas menengah yang tidak terlalu nyaman dengan politik identitas keras. Ini memberi ruang bagi Sholihin untuk tampil sebagai figur religius-urban yang komunikatif, bukan semata-mata tokoh sektoral.

Masalahnya tetap ada. PAN belum terbukti cukup kuat untuk menembus kursi DPR RI di dapil ini. Artinya, kalau Sholihin memilih PAN, ia tetap harus bekerja keras membangun suara pribadi dan mesin pemenangan dari bawah. Tetapi dibanding PSI, pekerjaan itu lebih realistis karena PAN sudah punya basis tradisional dan brand partai yang lebih lama tertanam.

Mengapa PAN layak dipertimbangkan?

Segmentasi pemilihnya relatif dekat dengan karakter politik H. Sholihin.

Peluang menjadi figur utama partai lebih terbuka dibanding Gerindra.

Bisa menjadi jalur konsolidasi basis religius-urban Bekasi.

Apa kelemahannya?

Periode 2024-2029 Belum punya kursi DPR RI di Dapil Bekasi-Depok.

Tetap membutuhkan kerja panjang untuk membangun mesin yang benar-benar kompetitif.

Lalu, Mana yang Paling Potensial untuk Bikin Karier H. Sholihin Cemerlang di 2030?

Kalau pertanyaannya adalah partai mana yang paling berpotensi membuat karier politik H. Sholihin cemerlang pada 2030 jika orientasinya caleg DPR RI Dapil Kota Bekasi-Depok, maka jawabannya bisa dipetakan dalam tiga level.

Pertama: Gerindra

Gerindra adalah pilihan paling rasional jika target utamanya kursi DPR RI. Partai ini sudah punya bukti menang, punya mesin, dan punya pasar pemilih yang luas. Risiko utamanya ada pada kompetisi internal, sehingga Sholihin harus masuk dengan posisi tawar yang jelas.

Kedua: PAN

PAN adalah opsi yang paling kompatibel jika yang dicari bukan hanya tiket, tetapi juga kesesuaian karakter politik. Jalurnya mungkin tidak semewah Gerindra, tetapi bisa menjadi pilihan paling stabil untuk membangun karier menuju Senayan secara bertahap.

Ketiga: PSI

PSI adalah kendaraan paling menarik jika targetnya lompatan branding dan posisi sebagai wajah utama partai, tetapi dari sisi peluang kursi, tetap menjadi opsi yang paling spekulatif. Jika Sholihin ingin berjudi pada skenario besar, PSI layak dicoba. Namun jika orientasinya murni kemenangan elektoral, PSI masih berada di belakang Gerindra dan PAN.

Skenario Politik H. Sholihin Menuju 2030

Jika H. Sholihin benar-benar mengincar DPR RI dari Bekasi-Depok, maka pekerjaan politiknya seharusnya dimulai jauh sebelum 2029. Ada tiga tahapan yang hampir wajib dilakukan.

Pertama, memastikan rumah politik lebih awal, idealnya sebelum 2027. Masuk partai terlalu mepet hanya akan membuat posisi tawarnya lemah. Ia harus berada di partai yang memberi ruang struktur, ruang branding, dan kepastian tiket.

Kedua, mengunci basis Kota Bekasi sampai menjadi salah satu figur dengan pengenalan nama paling kuat. Untuk dapil seperti Jabar VI, Bekasi harus menjadi lumbung suara utama sebelum ekspansi ke Depok dilakukan.

Ketiga, membangun jembatan ke Depok. Ini kerap menjadi kelemahan tokoh Bekasi. Padahal kursi DPR RI ditentukan oleh agregat dua kota. Tanpa simpul politik di Depok, peluang menembus Senayan akan jauh lebih berat.

Pada akhirnya, partai memang bisa membuka pintu, tetapi tidak otomatis mengantar ke kursi DPR RI. Untuk H. Sholihin, pilihan kendaraan politik menuju 2030 bisa dibaca begini: Gerindra paling realistis untuk menang, PAN paling natural untuk konsolidasi basis, dan PSI paling menjanjikan untuk lompatan branding.

Jika orientasinya benar-benar caleg DPR RI Dapil Bekasi-Depok pada 2030, maka urutan partai yang paling potensial membuat karier politik H. Sholihin cemerlang adalah:

1. Gerindra

2. PAN

3. PSI

Namun satu catatan penting tetap berlaku: yang menentukan bukan hanya partai, melainkan posisi H. Sholihin di dalam partai tersebut. Jika ia masuk sebagai pemain utama, peluangnya terbuka. Tetapi jika hanya menjadi pelengkap suara, bahkan kendaraan terbaik pun belum tentu cukup untuk mengantar ke Senayan. Wallahualam bishawab.

Ditulis oleh: Nyimas Sakuntala Dewi- Aktifis Perempuan Bekasi

Share:
Komentar

Berita Terkini