Dulu Cikarang Penuh Lio, Kini Diganti Pabrik dan Apartemen

Redaktur author photo

 

Bangunan ini bukan rumah tapi disebut nya Lio sebuah peradaban di wilayah Cikarang Bekasi yang mulai tergusur zaman.

Jejak Industri Batu Bata yang Pernah Menghidupi Ribuan Warga Bekasi

Jika melintas di wilayah Cikarang pada era 1980 hingga 1990-an, pemandangan yang terlihat sangat berbeda dengan hari ini. Di sepanjang jalan, hamparan bangunan rendah beratap genteng berjajar memenuhi sisi-sisi kawasan. Dari kejauhan, yang tampak hanyalah susunan atap merah memanjang seperti rumah-rumah yang tenggelam.

Bangunan-bangunan itu bukan permukiman. Warga Bekasi mengenalnya sebagai Lio, tempat pembakaran batu bata merah tradisional yang menjadi denyut ekonomi masyarakat selama puluhan tahun.

Kini, pemandangan tersebut nyaris lenyap. Lio yang dahulu menjadi ikon kawasan Cikarang dan sekitarnya telah berganti menjadi deretan pabrik, kawasan industri, pergudangan, apartemen, hingga kota mandiri modern.

Perubahan itu menjadi simbol bagaimana Bekasi bertransformasi dari daerah agraris dan industri rumahan menjadi salah satu pusat industri terbesar di Asia Tenggara.

Saat Bekasi Menjadi Dapur Batu Bata Jakarta

Jauh sebelum kawasan industri raksasa berdiri di Cikarang, roda ekonomi masyarakat banyak berputar dari tanah liat.

Bentuk Lio tidak memiliki pintu dan beralas tanah

Batu bata merah produksi Bekasi menjadi bahan utama pembangunan rumah, gedung, dan berbagai infrastruktur di Jakarta yang saat itu terus berkembang pesat. Dari wilayah utara hingga selatan Bekasi, sentra produksi batu bata tumbuh subur.

Kecamatan Cikarang, Lemahabang, hingga Cibarusah dikenal sebagai wilayah dengan ribuan tungku pembakaran atau Lio. Aktivitas mencetak, menjemur, mengangkut, hingga membakar batu bata melibatkan banyak tenaga kerja.

Tak hanya para pemilik usaha, keberadaan Lio juga menghidupi para buruh cetak, pengangkut tanah, sopir truk, penjual kayu bakar, hingga pedagang kecil di sekitar lokasi produksi.

Pada masa kejayaannya, industri batu bata merah menjadi salah satu sumber penghasilan terbesar masyarakat Bekasi. Banyak keluarga mampu menyekolahkan anak-anaknya, membangun rumah, bahkan membeli lahan dari hasil usaha batu bata tradisional.

Ciri Khas yang Sulit Dilupakan

Bagi generasi yang tumbuh di Bekasi pada dekade 1980 hingga 1990-an, Lio memiliki ciri visual yang sangat khas.

Bangunan pembakaran dibuat memanjang dengan tinggi lebih pendek dibanding rumah biasa. Atap genteng mendominasi bentuk bangunan sehingga dari kejauhan hanya terlihat hamparan merah kecokelatan yang berjejer tanpa henti.

Di sekelilingnya terdapat tumpukan batu bata yang sedang dijemur di bawah terik matahari. Asap tipis dari proses pembakaran sering terlihat mengepul, menjadi penanda aktivitas produksi yang berlangsung hampir tanpa henti.

Pemandangan tersebut dahulu menjadi identitas kawasan Cikarang sebelum berubah menjadi lanskap industri modern.

Industri Datang, Lio Mulai Tergusur

Memasuki akhir 1990-an hingga awal 2000-an, wajah Bekasi mulai berubah drastis. Masuknya investasi besar-besaran di sektor manufaktur membawa gelombang pembangunan kawasan industri, perumahan, dan infrastruktur. Harga tanah melonjak tajam. 

Lahan-lahan yang sebelumnya digunakan untuk produksi batu bata perlahan dibebaskan untuk kepentingan pembangunan.

Di banyak wilayah, terutama Cikarang dan Lemahabang, keberadaan Lio mulai berkurang satu per satu. Sebagian pemilik menjual lahannya kepada pengembang, sebagian lainnya beralih profesi karena usaha batu bata semakin sulit bersaing dengan perkembangan zaman.

Perubahan tersebut memang membawa pertumbuhan ekonomi baru. Namun di sisi lain, banyak jejak sejarah ekonomi masyarakat lokal yang ikut menghilang.

Hari ini, ketika melintasi kawasan Cikarang, yang terlihat adalah gedung pabrik bertingkat, apartemen, pusat logistik, dan jalan-jalan besar yang ramai kendaraan industri. Sulit membayangkan bahwa kawasan yang sama pernah menjadi pusat produksi batu bata terbesar untuk Jakarta.

Cibarusah, Benteng Terakhir Lio Tradisional

Meski banyak sentra batu bata telah hilang, jejak industri tradisional ini belum sepenuhnya musnah.

Di Kampung Cijati, Desa Sirnajati, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, sejumlah Lio dan Hawu tradisional masih bertahan hingga sekarang. Aktivitas pencetakan dan pembakaran batu bata masih berlangsung meskipun jumlahnya jauh berkurang dibanding masa kejayaan dahulu.

Keberadaan mereka menjadi saksi hidup perjalanan panjang ekonomi masyarakat Bekasi.

Di tengah tekanan pembangunan, kenaikan harga lahan, serta persaingan material bangunan modern, para pelaku usaha batu bata tradisional tetap mempertahankan warisan yang telah diwariskan turun-temurun.

Lebih dari Sekadar Batu Bata

Lio bukan hanya tempat membakar batu bata. Ia adalah bagian dari sejarah sosial dan ekonomi Bekasi.

Sebelum kawasan industri mengubah wajah daerah ini, Lio menjadi ruang tempat ribuan keluarga menggantungkan harapan hidup. Dari tanah liat sederhana, lahir penghidupan yang membesarkan generasi demi generasi warga Bekasi.

Kini ketika pabrik dan apartemen menjulang tinggi menggantikan hamparan tungku pembakaran, kenangan tentang Lio perlahan memudar dari ingatan publik.

Padahal, tanpa batu bata merah dari Bekasi, sebagian pembangunan Jakarta pada masa lalu mungkin tidak akan berlangsung secepat yang terjadi.

Karena itu, keberadaan Lio dan Hawu yang masih bertahan di Cibarusah layak dipandang bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan juga warisan sejarah yang merekam perjalanan panjang masyarakat Bekasi dari era tanah liat menuju era industri modern.

Selama asap dari tungku-tungku tradisional itu masih mengepul, selama itu pula sebagian sejarah Bekasi masih tetap hidup.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini