![]() |
| Plt Ketua PSSI Askab Sumedang Taufik Risnandar |
inijabar.com, Sumedang – Polemik penyelenggaraan Piala Soeratin 2026 tingkat Kabupaten Sumedang yang sempat viral di media sosial akhirnya mendapat klarifikasi resmi dari PSSI Askab Sumedang. Isu ini mencuat setelah beredar video yang menyebut para juara dan runner-up tidak menerima trofi, piagam, maupun uang pembinaan.
Pelaksana Tugas (Plt) Ketua PSSI Askab Sumedang, Taufik Risnandar, menyampaikan permohonan maaf kepada pelatih, orang tua pemain, Sekolah Sepak Bola (SSB), klub, serta masyarakat Sumedang atas polemik yang terjadi.
Menurutnya, persoalan tersebut dipicu oleh miskomunikasi antara panitia, asosiasi, klub, dan orang tua pemain terkait bentuk apresiasi yang diberikan kepada para juara.
"Informasi yang seharusnya tersampaikan secara seragam justru dipahami berbeda oleh para peserta di lapangan," jelasnya.
Apresiasi Bukan Uang Tunai
PSSI Askab Sumedang menegaskan bahwa penghargaan kepada para juara tidak diberikan dalam bentuk uang tunai, melainkan subsidi penuh biaya pendaftaran untuk mengikuti Piala Soeratin tingkat Provinsi Jawa Barat.
Besaran bantuan tersebut meliputi:
Kelompok usia U-13 sebesar Rp3,5 juta.
Kelompok usia U-15 sebesar Rp4 juta.
Kelompok usia U-17 sebesar Rp4,5 juta.
Bantuan itu dimaksudkan untuk meringankan beban klub yang akan mewakili Sumedang di tingkat provinsi.
Piagam Diberikan Secara Digital
Selain subsidi pendaftaran, PSSI Askab Sumedang menjelaskan bahwa para pemain tetap memperoleh piagam penghargaan dalam bentuk sertifikat elektronik (e-sertifikat).
E-sertifikat tersebut dikirim secara daring kepada admin masing-masing klub atau SSB agar dapat dicetak secara mandiri sesuai kebutuhan data pemain yang terdaftar.
Minta Maaf dan Evaluasi
Sebagai bentuk tanggung jawab, Taufik kembali menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang muncul akibat polemik tersebut. PSSI Askab Sumedang berkomitmen melakukan evaluasi terhadap sistem komunikasi dan penyampaian informasi agar kejadian serupa tidak terulang pada penyelenggaraan kompetisi berikutnya.
Polemik ini menjadi pelajaran penting bahwa transparansi informasi dalam penyelenggaraan kompetisi sepak bola usia dini sangat diperlukan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah peserta maupun masyarakat.(*)



