Curah Hujan Tinggi: Kementerian Pertanian Kawal Produksi Cabai Bersama Pemerintah Daerah inijabar.com
|
Menu Close Menu

Curah Hujan Tinggi: Kementerian Pertanian Kawal Produksi Cabai Bersama Pemerintah Daerah

Selasa, 07 Juni 2022 | 08.21 WIB




inijabar.com, Jakarta- Produksi cabai kerap berfluktuasi akibat kondisi cuaca alam. Faktor ini sangat berpengaruh di hampir semua produksi pertanian. Terlebih kadang kondisinya tidak sesuai dengan prediksi. OPT yang menyerang pertanaman cabai umumnya busuk buah dan layu fusarium. Jika terjadi hujan ekstrem bisa mengakibatkan bunga rontok yang berujung pada gagalnya menjadi buah. Selain itu gagal panen juga dapat disebabkan oleh tumbuhnya jamur seperti _antraknosa_ dan _phythoptora_.


Dengan demikian perlu disiasati dengan penerapan teknologi yang tepat agar usaha pertanian tetap memberikan hasil yang menguntungkan. Keunikan kondisi alam ini diungkapkan oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) agar tidak dijadikan kendala dalam menjaga produksi pangan tetap aman. Kerahkan segala upaya agar produksi terjaga, bermutu dan berkualitas. Dalam hal ini teknologi rain shelter menjadi salah satu solusi untuk menjaga produksi dan produktivitas tanaman cabai di musim hujan.


“Rain shelter merupakan atap sungkup dari plastik UV yang dipasang menggunakan kerangka bambu, besi dan sejenisnya di atas pertanaman cabai. Penggunaan rain shelter pada pertanaman cabai di musim hujan memberikan banyak manfaat di antaranya petani menjadi lebih tenang karena tanamannya terlindungi dari guyuran air hujan secara langsung sehingga bunga tidak rontok dan buah tidak busuk. Kelembapannya pun terjaga sehingga dapat mencegah serangan penyakit yang sangat ditakuti petani yakni antraknosa dan phythoptora,” ujar Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto dalam pesan suara, Senin (6/6). 


Penggunakan rain shelter ini, terang Prihasto, pada umumnya sama dengan budidaya cabai biasa, namun disarankan dalam satu bedengan hanya satu baris tetapi jarak tanamnya lebih rapat. Tujuannya untuk mengurangi populasi hama _thrips_.


Salah satu kelemahan budidaya cabai dengan _rain shelter_ memang serangan thripsnya lebih banyak makanya tetap perlu penyiraman dan 20 hari sekali plastik UV harus digulung. Pengendalikan thrips lebih gampang dibandingkan antraknosa.   Pengendalian thrips lebih mudah, disemprot dengan air biasa juga bisa sekaligus untuk penyiraman.


Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Tommy Nugraha menghimbau petani dapat menggunakan teknologi tersebut sehingga produksi tidak terkendala oleh musim. Dengan demikian petani bisa menanam cabai tanpa khawatir merugi meskipun musim hujan.


“Untuk pengendalian OPT diharapkan petani menggunakan bahan pengendali OPT yang ramah lingkungan seperti _trichoderma_ sp. dan perangkap likat. Penggunaan bahan pengendali ramah lingkungan terus disosialisasikan ke petani. Petugas POPT telah melatih petani cara membuat bahan pengendali ramah lingkungan,”  jelas Tommy.


Curah hujan pada periode April-Mei 2022 cenderung lebih tinggi dibandingkan periode April-Mei 2021. Tercatat pada April 2021 curah hujan 194,8 mm dan April 2022 curah hujan 215,6 mm. Hal ini secara tidak langsung menyebabkan peningkatan serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Phytophthora, sp penyebab penyakit busuk daun pada cabai dan juga penyakit antraknosa. Berdasarkan data dari Petugas Pengendali OPT (POPT) di daerah yang direkapitulasi oleh Direktorat Perlindungan Hortikultura, luas keadaan serangan OPT busuk daun dan antraknosa pada periode April-Mei 2022 meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2021. Pada April 2021 serangan OPT busuk daun seluas 16,23 hektare. Angka ini pada April 2022 naik menjadi 298,71 hektare. Sementara serangan antraknosa pada April 2021 seluas 1.294 hektare dan menurun pada 2021 seluas 1.122 hektare. 


Terkait kondisi di lapangan di mana kondisi hujan yang belakangan secara intensif mengguyur sebagian besar sentra cabai, Kementerian Pertanian tengah berkoordinasi serius ke UPTD BPTPH (Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura) untuk melakukan tindakan pengendalian berupa gerakan pengendalian di wilayah yang terdampak menggunakan bahan pengendali yang ramah lingkungan. Kegiatan dimaksud antara lain penyemprotab menggunakan bahan pengendali ramah lingkungan berupa Plant Growth Promoting Rhizobacteria, aplikasi Trichoderma, pestisida nabatidan bahan pengendali ramah lingkungan lainnya. Selain itu laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit dan Klinik PHT di tingkat kecamatan juga terus memproduksi bahan pengendali ramah lingkungan yang digunakan oleh Petugas POPT dalam membantu petani mengendalikan permasalahan OPT di lapangan.(adv)

Bagikan:

Komentar