Sempat Ditolak Segelintir Warga, Ceramah UAS di Jonggol Dipadati Ribuan Jamaah inijabar.com
|
Menu Close Menu

Sempat Ditolak Segelintir Warga, Ceramah UAS di Jonggol Dipadati Ribuan Jamaah

Minggu, 19 Juni 2022 | 06.13 WIB




Ustad Abdul Somad sedang dipakaikan Iket Sunda oleh tokoh masyarakat Jonggol H.Mulyadi sebelum berceramah di Masjid Cikal Harapan Citra Indah City Jonggol Kab.Bogor. Jumat malam 17 Juni 2022.


inijabar.com, Kabupaten Bogor- Meski sebelumnya sempat ada penolakan dari segelintir warga yang mengaku warga citra Indah City Jonggol Kabupaten Bogor. Ribuan jamaah tetap mengikuti tabligh akbar Ustaz Abdul Somad (UAS) di Masjid Cikal Harapan, di wilayah tersebut pada Jumat (17/6/2022) malam.


Membludaknya jamaah yang hadir hingga jauh keluar areal masjid. UAS sendiri tercatat memberikan materi ceramahnya selama satu jam.


Bahkan sebelum memulai ceramahnya, UAS disematkan penutup kepala iket Sunda yang dipakaikan oleh Haji Mulyadi, yang merupakan anggota Komisi V DPR RI dan juga tokoh masyarakat asli Jonggol.


 Menurut H.Mulyadi, iket kepala itu simbol bahwa masyarakat Sunda itu memiliki folosofi silih asah, silih asuh, silih asih, artinya menjalankan ajaran agama, saling menyayangi, saling menjaga, saling memberikan pemahaman dan seterusnya. 


"Iket Sunda itu saya sematkan di kepala Ustaz dengan sangat izin karena beliau ulama profesor doktor ulama besar, beliau bilang 'pasang saja pak Mulyadi',"tuturnya menirukan jawaban UAS.


Mulyadi juga mengomentari soal kehadiran UAS di tengah masyarakat dan tanah Sunda (Jonggol Kabupaten Bogor), menunjukan bahwa simbol sunda yang selalu menjaga falsafah hidup Sunda.


"Itu spontan saja dari saya sebagai putra Sunda bahwa ini penutup kepala khas sunda mohon diterima. Dalam konteks khas Sunda itu adalah simbol falsafahnya," jelas Mulyadi. 


Soal adanya penolakan segelintir warga terhadap UAS, dirinya berharap sesama bangsa Indonesia harus mengingatkan bahwa perbedaan cara pandang yang muncul di masyarakat harus lebih mengedepankan kebersamaan dan persatuan kekeluargaan.


"Saya sudah sampaikan ke panitia karena saya sebagai putra Jonggol asli membuka mediasi dialog untuk bersama membuka pemahaman. Setiap orang berhak memiliki idola (ulamanya) masing-masing, Ustaz Abdul Somad sangat dinantikan itu harus dihormati. Dan menghormati bagi yang menolak artinya memiliki sudut pandang berbeda," jelasnya.


Kehadiran UAS di Jonggol, kata Mulyadi mengungkapkan, suatu kehormatan di tengah kesibukannya dakwah ke pelosok negeri.


"Dinamika penolakan, sudah dilupakan dan bangun silahturahim, karena balik lagi setiap orang ingin menuntut ilmu bersyukur, siapapun ujungnya sama mencari Ridho Allah subhanawataalla," katanya.


Mulyadi berpesan agar masyarakat mengedepankan persatuan dan kesatuan. Menurutnya, para pendiri bangsa sudah mengakomodir perbedaan dengan dipersatukan dalam komitmen berbangsa dan bernegara supaya mengedepankan asas persatuan. Pasalnya, kata dia, konsep dakwah berbeda-beda ada yang lembut, ada yang tegas keras, ada yang lucu, ada jemaah yang door to door.


"Kita berlatar belakang berbeda, jadi masyarakat harus menerima perbedaan itu sebagai anugerah,"ujar Mulyadi.(*)




Bagikan:

Komentar