![]() |
| Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Ahmad Faisyal |
inijabar.com, Kota Bandung- Banjir yang kembali melanda sejumlah wilayah di Jawa Barat dalam beberapa waktu terakhir tak hanya berdampak pada aktivitas warga, tetapi juga memicu persoalan lingkungan yang kian mengkhawatirkan.
Menurut Anggota DPRD Jawa Barat Ahmad Faisyal Hermawan, cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi yang diperparah oleh sistem drainase yang tidak berfungsi optimal disebut menjadi penyebab utama.
"Genangan air terjadi di kawasan permukiman, jalan protokol, hingga area pertanian. Kondisi ini mengindikasikan lemahnya daya dukung lingkungan perkotaan dalam menampung limpasan air hujan, terutama di wilayah dengan tingkat alih fungsi lahan yang tinggi,"ujar politisi asal PDIP ini. Sabtu (24/1/2025)
Faisyal menjelaskan, mampetnya drainase akibat sedimentasi, tumpukan sampah, serta penyempitan saluran air menyebabkan air hujan tidak dapat mengalir dengan lancar. Akibatnya, air meluap ke permukaan dan membawa material pencemar seperti limbah rumah tangga, lumpur, hingga sampah plastik.
Dari sisi lingkungan, kata Faisyal, banjir berulang berpotensi menurunkan kualitas tanah dan air. Genangan yang bercampur limbah dapat mencemari sumur warga dan badan air, sekaligus merusak mikroorganisme tanah yang berperan penting dalam menjaga kesuburan lahan. Di sektor pertanian, banjir juga mengancam produktivitas tanaman dan mempercepat degradasi lahan.
Selain itu, lanjut dia, tekanan terhadap ekosistem sungai semakin meningkat. Pendangkalan akibat sedimentasi memperkecil kapasitas tampung sungai, memperbesar risiko banjir susulan, serta mengganggu habitat biota air. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu ketidakseimbangan ekosistem perairan di Jawa Barat.
Faisyal menilai persoalan banjir tidak bisa semata-mata dipandang sebagai dampak cuaca ekstrem. Buruknya tata kelola drainase, minimnya ruang terbuka hijau, serta rendahnya kesadaran pengelolaan sampah turut memperparah dampak lingkungan yang ditimbulkan.
"Pemerintah daerah harus melakukan normalisasi drainase secara berkala, memperkuat pengawasan tata ruang, serta meningkatkan edukasi lingkungan kepada masyarakat. Tanpa langkah perbaikan menyeluruh, banjir berpotensi terus berulang dan meninggalkan kerusakan lingkungan yang semakin sulit dipulihkan,"tandasnya.(*)




