![]() |
| Salah satu titik macet di Bandung |
inijabar.com, Kota Bandung - Sebuah platform pemantau lalu lintas global bernama TomTom Traffic Index mempublish trafic indeks tahun 2025 bahwa Kota Bandung menempati posisi ke 16 sebagai kota termacet di Indonesia.
Tingkat kemacetan rata-rata di Bandung mencapai 64,1%, artinya waktu perjalanan di kota itu melambat cukup signifikan dibandingkan kondisi ideal tanpa hambatan.
Untuk menempuh jarak 10 kilometer saja, pengendara di Bandung membutuhkan waktu rata-rata 32 menit 26 detik, nyaris tak berubah dari kondisi tahun sebelumnya. Kecepatan kendaraan saat jam sibuk pun hanya berada di kisaran 16,3 km per jam.
TomTam Trafic menganalisis tingkat kemacetan, waktu tempuh, dan kecepatan kendaraan berdasarkan data GPS yang terpasang pada kendaraan.
Sejumlah faktor dinilai menjadi penyebab utama kemacetan kronis di Kota Kembang.
Pertama, tingginya volume kendaraan pribadi yang tidak sebanding dengan kapasitas jalan. Bandung merupakan kota tujuan wisata utama, terutama saat akhir pekan dan musim libur. Lonjakan kendaraan dari luar kota bercampur dengan mobilitas warga lokal membuat beban jalan meningkat drastis.
Kedua, keterbatasan dan karakteristik jaringan jalan. Banyak ruas jalan di Bandung merupakan jalan lama dengan lebar terbatas, sementara pelebaran jalan sulit dilakukan karena kepadatan bangunan dan kawasan heritage. Kondisi ini menyebabkan bottleneck di sejumlah titik strategis.
Ketiga, pertumbuhan kawasan komersial dan wisata yang terpusat. Aktivitas ekonomi, pusat perbelanjaan, kafe, hingga destinasi wisata terkonsentrasi di area tertentu seperti pusat kota dan kawasan utara, sehingga memicu penumpukan arus lalu lintas pada jam-jam tertentu.
Keempat, transportasi umum yang belum optimal. Meski telah ada angkutan umum dan pengembangan transportasi massal, ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi masih tinggi. Konektivitas dan kenyamanan transportasi publik dinilai belum sepenuhnya mampu menjadi alternatif utama.
Kelima, manajemen lalu lintas yang belum konsisten. Rekayasa lalu lintas bersifat situasional dan belum sepenuhnya berbasis sistem cerdas terintegrasi. Parkir di badan jalan dan aktivitas naik-turun penumpang di titik-titik padat juga memperparah kemacetan.
Kombinasi faktor struktural, tingginya mobilitas wisata, serta belum optimalnya transportasi publik membuat kemacetan di Bandung cenderung stagnan dari tahun ke tahun.
Tanpa kebijakan pengendalian kendaraan dan perbaikan sistem transportasi yang lebih tegas, Bandung diperkirakan masih akan bertahan dalam daftar kota termacet, baik di tingkat nasional maupun global.(*)




