![]() |
| Polder Griya Bintara |
inijabar.com, Kota Bekasi – Keberadaan Polder Air Griya Bintara RW 12, Kecamatan Bekasi Barat, belum sepenuhnya mampu menekan genangan banjir di kawasan tersebut.
Meski sudah ada bantahan dari lurah Bintara bahwa banjir di sekitar area Polder lebih turun dibanding sebelum ada polder air. Namun tidak ada parameter valid bahwa banjir di Bintara lebih tinggi atau lebih rendah.
Kolam penampung air yang baru diresmikan Pemerintah Kota Bekasi pada 21 Januari 2026, toh tetap saja faktanya banjir masih terjadi sehari setelahnya saat hujan lebat mengguyur wilayah Bekasi dan sekitarnya.
Polder yang dibangun sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir itu dilengkapi kolam retensi dan pompa air untuk mempercepat pembuangan air ke saluran utama.
Pemerintah Kota Bekasi sebelumnya menyebut polder ditujukan untuk mengurangi tinggi dan durasi genangan di kawasan padat penduduk seperti Griya Bintara.
Namun, berdasarkan laporan lapangan pada 22–23 Januari 2026, genangan air masih terjadi di sejumlah titik Bekasi Barat, termasuk di sekitar Jalan Raya Bintara. Ketinggian air dilaporkan bervariasi, mulai dari 30 sentimeter hingga sekitar 90 sentimeter, dan mengganggu aktivitas warga serta arus lalu lintas.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada periode tersebut mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Jabodetabek, termasuk Kota Bekasi, dengan potensi hujan sedang hingga lebat yang berisiko menimbulkan banjir dan genangan.
Perbandingan Curah Hujan dan Genangan
Pada 22 Januari 2026, hujan dengan intensitas tinggi terjadi hampir merata di Kota Bekasi. Kondisi ini berbanding lurus dengan munculnya genangan di berbagai lokasi.
22 Januari 2026
Kondisi cuaca: Hujan lebat (peringatan dini BMKG)
Dampak: Genangan air di Bekasi Barat berkisar 30–60 cm
22–23 Januari 2026
Kondisi cuaca: Hujan berintensitas tinggi dan berkelanjutan
Dampak: Genangan di beberapa titik mencapai 70–90 cm
Hingga saat ini, belum ada data resmi dari Pemkot Bekasi, BPBD, maupun dinas teknis yang merilis perbandingan kuantitatif ketinggian banjir sebelum dan sesudah polder Griya Bintara beroperasi, baik dalam satuan milimeter curah hujan maupun sentimeter genangan air.
Pemerintah Kota Bekasi menyatakan keberadaan polder merupakan bagian dari solusi jangka menengah, yang tetap memerlukan dukungan sistem drainase terpadu, normalisasi saluran, serta pengendalian aliran air dari wilayah sekitar.
Sementara itu, warga berharap evaluasi kinerja polder dilakukan secara terbuka, terutama saat menghadapi hujan dengan intensitas tinggi.
Belum Ada Data Definitif Turunnya Tinggi Genangan Sejak Polder
Sampai sekarang belum ada data resmi yang membandingkan ketinggian genangan sebelum dan setelah polder beroperasi di Griya Bintara. Semua laporan peresmian menekankan fungsi dan harapan terhadap fasilitas ini, bukan statistik perubahan nyata pasca-operasional.
Artinya: klaim “banjir lebih rendah” belum bisa dipastikan secara ilmiah karena data kuantitatif belum dipublikasikan Pemerintah atau BPBD
Secara teori, polder seperti yang dibangun di Griya Bintara dapat menekan tinggi genangan air dan mempercepat pembuangan air banjir.
Ini sejalan dengan strategi pemerintah untuk pengendalian banjir jangka panjang. Namun, berdasarkan data yang tersedia hingga kini:
Tidak ada bukti statistik resmi yang menunjukkan bahwa banjir di Griya Bintara telah menjadi lebih rendah setelah keberadaan polder.
Di lapangan, contoh genangan setinggi puluhan hingga ~90 cm masih terjadi.
Kritik terhadap efektivitas polder di sekitar area menunjukkan bahwa infrastruktur baru belum otomatis memecahkan masalah banjir secara keseluruhan.
Analisa final: Pola penurunan banjir belum dapat dipastikan. Polder Griya Bintara memberi potensi pengurangan genangan, tetapi belum ada data komparatif pasca-bangun yang kuat untuk membuktikan klaim “banjir lebih rendah”.
Evaluasi lebih lanjut dengan data curah hujan, total genangan, dan waktu genangan diperlukan untuk menarik kesimpulan yang valid.(*)




