Dibangun Buat Atasi Banjir, Polder Aren Jaya Malah Kebanjiran

Redaktur author photo
Banjir di Polder air Aren Jaya 

inijabar.com, Kota Bekasi- Di Kota Bekasi jika bicara polder air yang paling populer, pasti banyak warga Bekasi sepakat menyebut polder air Aren Jaya yang berada di wilayah Kecamatan Bekasi Timur.

Polder yang dibangun sekitar tahun 2015 ini saat proses pembangunannya diwarnai polemik sengketa pembebasan lahan ini terendam air akibat intensitas hujan tinggi sejak Rabu (21/1/2026) malam hingga Kamis (22/1/2026).

Lokasi polder ini jadi salah satu venue favorit warga Aren Jaya, Bekasi Timur yang hobby mancing.

Ironisnya, polder yang katanya dibangun untuk menahan banjir, justru kebanjiran lebih dulu. Seolah ingin berkata: “Tenang, warga. Saya ikut merasakan penderitaan kalian.”

Secara teori, polder itu seperti ember raksasa. Air hujan masuk, ditahan, lalu dipompa keluar pelan-pelan. Tapi di Aren Jaya, embernya keburu penuh sebelum hujan selesai turun.

Warisan Proyek Lama: Dibangun Saat Tri Adhianto di PUPR

Polder Aren Jaya bukan proyek kemarin sore. Ia lahir saat Tri Adhianto masih menjabat Kepala Dinas PUPR Kota Bekasi. Waktu itu, polder digadang-gadang sebagai solusi banjir kawasan timur kota.

Namun, warga sekarang bertanya: “Kalau ini solusi, kok masalahnya masih langganan?”

Di sinilah kontroversi mulai mengapung—bersamaan dengan air banjir.

Beberapa catatan kritis yang sering muncul: Perencanaan diduga minim kajian hidrologi ekstrem.

Pembebasan lahan dan fungsi lahan menuai polemik. Polder dibangun, tapi sungai dan drainase sekitarnya tidak dibenahi serius

Ibarat bikin garasi mewah, tapi akses jalannya masih becek.

Bekasi Timur: Korban Urbanisasi Tanpa Ampun

Aren Jaya dan Bekasi Timur bukan daerah sembarangan. Ia berada di cekungan air, menerima limpahan dari mana-mana.

[cut]


Masalahnya, pembangunan terus jalan. Perumahan naik, beton bertambah, RTH menyusut, sungai tetap segitu-gitu saja.

Air hujan bingung mau ke mana. Akhirnya, ia “numpang nginep” di rumah warga.

Polder? Ia hanya bisa menampung sebagian. Sisanya? Ya silakan cari kosan sendiri.

Kenapa Polder Selalu Disalahkan?

Karena polder yang paling kelihatan. Warga tidak melihat kajian teknis, tidak melihat desain awal, tidak melihat rapat anggaran. Yang terlihat hanya satu hal:

“Polder ada, banjir tetap ada.”

Padahal, polder bukan superhero. Ia butuh sungai yang dinormalisasi, drainase yang hidup, pompa yang siaga, tata kota yang waras.

Tanpa itu, polder cuma jadi monumen niat baik yang kebanyakan air.

Biar Polder Nggak Jadi Bahan Candaan

Supaya Polder Aren Jaya tidak terus-terusan jadi meme banjir, beberapa langkah ini wajib dilakukan:

1. Audit Teknis Total

Bukan audit basa-basi. Tapi kapasitas asli vs debit banjir nyata. Fungsi pompa. Konektivitas ke sungai. Kalau desainnya salah dari awal, jangan dipaksa terlihat benar.

2. Normalisasi Sungai Sekitar

Polder tanpa sungai yang sehat itu seperti bak mandi tanpa pembuangan.

Keruk, lebarkan, dan pastikan air bisa keluar, bukan muter-muter.

3. Evaluasi Warisan Proyek

Pemerintah sekarang jangan alergi mengevaluasi proyek lama.

Kalau ada kesalahan perencanaan di masa lalu, akui dan perbaiki, bukan diwariskan ke banjir berikutnya.

4. Tambah Ruang Resapan, Bukan Janji

Kurangi beton, tambah tanah. Bekasi tidak kekurangan bangunan, tapi kekurangan tempat air bernapas.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini