![]() |
| Kondisi tumpukan sampah di wilayah Sepatan, Sepanjang Jaya, Rawalumbu, sebelum dibersihkan oleh DLH, Sabtu (17/1/2026). |
inijabar.com, Kota Bekasi - Pemerintah Kota Bekasi menetapkan kondisi darurat sampah, seiring keterbatasan daya tampung Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu, yang kini mengalami overload.
Menurut informasi, kondisi diperparah dengan longsoran sampah akibat hujan deras dalam beberapa waktu terakhir, yang menutup akses jalan utama menuju area pembuangan.
Kepala Bidang Penanganan Sampah dan Kemitraan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Andy Frengky, mengatakan hujan yang turun terus-menerus dalam sebulan terakhir memicu terjadinya longsoran sampah, sehingga menutup akses jalan utama menuju area pembuangan.
"Kota Bekasi masuk dalam kota darurat sampah, di mana TPA Sumur Batu kita itu dalam kondisi overload. Ditambah lagi pada bulan lalu kondisi cuaca hujan terus-menerus, sehingga menimbulkan longsoran terhadap akses jalan utama yang ada di TPA," ujar Andy dalam keterangan video, Sabtu (17/1/2026).
Akibat longsoran tersebut, pelayanan pembuangan sampah menjadi terhambat dan menimbulkan antrian panjang kendaraan pengangkut sampah. Dampaknya, sampah di sejumlah wilayah Kota Bekasi terlambat diangkut.
Sejumlah warga mengeluhkan keterlambatan, yang biasanya pengangkutan dilakukan satu hingga tiga kali dalam seminggu, namun kini bisa tidak terjadi pengangkutan hingga satu sampai dua minggu.
Andy menjelaskan, pihaknya telah mengambil sejumlah langkah penanganan dengan menggerakkan alat berat, untuk membersihkan longsoran yang menutup akses jalan utama TPA.
"Kami juga sudah mencoba untuk mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki itu. Kita coba menggunakan alat berat untuk mengatasi longsoran yang menutupi akses jalan utama di TPA Sumur Batu," kata Andy.
Namun menurutnya, proses penanganan tidak bisa dilakukan secara cepat, mengingat kondisi cuaca yang masih menjadi kendala dalam pengoperasian alat berat, terutama hujan yang terus berlangsung memperlambat proses pembersihan longsoran sampah.
"Akibat keterbatasan kapasitas TPA dan longsoran sampah ini, frekuensi pengangkutan sampah terpaksa dikurangi. Kami terus berupaya menormalisasi kembali sistem pengelolaan sampah, agar pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan optimal," pungkasnya. (Pandu)




