![]() |
| Longsor di kaki Gunung Burangrang Kp Banakan Pasirkuning Desa Pasirlangu kecamatan Cisarua Bandung Barat |
inijabar.com, Bandung Barat- Longsor terjadi di kaki Gunung Burangrang, tepatnya di Kampung Babakan Pasirkuning RT 05 RW 11, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (24/1/2026) dini hari sekitar pukul 02.30 WIB. Peristiwa ini mengakibatkan sedikitnya 22 rumah warga hancur dan tertimbun material tanah.
Berdasarkan laporan awal yang diterima aparat kewilayahan, longsor terjadi saat sebagian besar warga masih berada di dalam rumah. Hingga Sabtu pagi, proses pendataan korban masih dilakukan. Diperkirakan sekitar 100 warga terdampak telah dievakuasi, sebagian besar mengungsi ke Kantor Desa Pasirlangu.
Petugas gabungan bersama unsur TNI langsung bergerak ke lokasi kejadian setelah menerima laporan. Langkah awal yang dilakukan meliputi pengecekan lokasi, pelaporan ke komando atas, serta evakuasi warga dari area rawan longsor.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi terkait jumlah korban jiwa. Namun aparat masih mengantisipasi potensi longsor susulan mengingat kondisi tanah yang labil dan curah hujan yang masih tinggi.
Pengamat lingkungan dari salah satu perguruan tinggi di Jawa Barat, Dr. Andi Pratama, menilai longsor di kawasan kaki Gunung Burangrang bukan peristiwa tunggal, melainkan akumulasi dari berbagai faktor lingkungan.
“Wilayah kaki gunung Burangrang memiliki kemiringan lereng yang cukup curam dan secara geologis memang rawan longsor. Curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir mempercepat kejenuhan tanah. Jika ditambah alih fungsi lahan dan minimnya vegetasi penahan, maka risiko longsor menjadi sangat tinggi,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya evaluasi tata ruang dan pemetaan ulang kawasan rawan bencana. Menurutnya, relokasi warga di zona merah longsor harus menjadi opsi serius, bukan hanya penanganan darurat pascakejadian.
“Penanganan bencana tidak bisa berhenti pada evakuasi. Pemerintah daerah perlu melakukan audit lingkungan dan memastikan kawasan rawan tidak terus dijadikan permukiman,” tambahnya.
Saat ini, aparat dan pemerintah desa masih siaga di lokasi untuk membantu warga terdampak serta memantau perkembangan situasi di sekitar lokasi longsor.(novi)




