448 Tahun Sumedang: Bupati Klaim Pembangunan 'Terasa', Fakta di Lapangan?

Redaktur author photo
Bupati Sumedang H.Dony Ahmad Munir

inijabar.com, Sumedang - Peringatan Hari Jadi ke-448 Kabupaten Sumedang tak hanya diwarnai seremoni, tetapi juga klaim ambisius dari Bupati Sumedang H. Dony Ahmad Munir soal capaian pembangunan yang disebut “nyata dan dirasakan masyarakat”. 

Namun, di balik deretan angka dan program unggulan, muncul pertanyaan, seberapa dalam dampaknya benar-benar menyentuh kebutuhan warga?

Dalam upacara di Lapangan PPS, Senin (20/4/2026), Dony menegaskan tema “Simpatina Kadeuleu, Karampa, Karasa” sebagai tolok ukur pembangunan, harus terlihat, terukur, dan dirasakan. Pernyataan itu sekaligus menjadi janji politik yang tak ringan untuk dibuktikan di tengah tantangan klasik daerah.

“Pembangunan tidak boleh sekadar formalitas. Harus menjadi solusi,” ucapnya. Senin (20/4/2026)

Di sektor infrastruktur, Pemkab Sumedang mengandalkan Program Jalan Leucir Nepi Ka Desa. Tahun 2025, tercatat 57 ruas jalan diperbaiki dan satu ruas strategis, Jalan Lingkar Utara Jatigede, diresmikan. Tahun 2026, targetnya meningkat menjadi 66 ruas jalan dan tiga jembatan, ditambah pemasangan 434 titik PJU.

Angka-angka tersebut diklaim berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi yang melonjak dari 4,05 persen menjadi 5,48 persen. Namun, pertumbuhan ini masih menyisakan pekerjaan rumah: pemerataan akses antarwilayah dan kualitas infrastruktur yang kerap dikeluhkan warga di daerah pelosok.

Di bidang pendidikan, program Sekolah/Pesantren Produktif Ramah Lingkungan terus digulirkan. Sementara di sektor ekonomi, Pemkab mendorong Wirausaha Muda dan UMKM melalui pelatihan dan digitalisasi. Lagi-lagi, efektivitas program ini akan diuji pada seberapa besar mampu menciptakan lapangan kerja baru, bukan sekadar pelatihan seremonial.

Sektor pertanian pun tak luput dari sorotan melalui Program Revolusi Pertanian (Revolper), yang fokus pada irigasi dan bantuan alat mesin. Namun, persoalan klasik seperti distribusi bantuan dan keberlanjutan program masih menjadi titik kritis yang perlu diawasi.

Di sisi sosial, program Kadeudeuh Simpati dan Nyaah Ka Indung disebut sebagai bentuk empati pemerintah. Meski demikian, publik menanti apakah bantuan sosial ini mampu menjawab persoalan kemiskinan struktural atau hanya bersifat jangka pendek.

Momentum 448 tahun Sumedang sejatinya menjadi cermin: apakah pembangunan benar-benar “karasa” (terasa), atau masih sebatas narasi di atas podium.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini