Fenomena Pejabat 'Berburu' Award, KDM Pilih Tak Mau Terjebak Budaya Kejar Piagam

Redaktur author photo
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi

inijabar.com, Kota Bandung- Fenomena pejabat berburu penghargaan dengan berbagai cara, bahkan hingga rela merogoh kocek, kembali menjadi sorotan. Di tengah tren itu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, justru mengambil sikap berbeda, absen dari panggung penghargaan dan memilih fokus pada kerja nyata.

Dedi Mulyadi diketahui menerima penghargaan Impactful Leader in People-Centric Problem Solving dalam ajang kumparan Awards Impact Makers 2025 yang digelar di Hotel Indonesia Kempinski, Kamis (18/12/2025). Namun, ia tidak hadir langsung dan menugaskan Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, untuk mewakilinya.

Menurut Herman, sikap tersebut bukan tanpa alasan. Ia menyebut Dedi lebih memilih berada di tengah masyarakat, terutama saat terjadi bencana atau persoalan sosial.

“Kalau dapat penghargaan, suka menugaskan kepada jajaran birokrasi. Kalau ada bencana atau musibah, beliau biasanya paling depan,” ujar Herman.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga mencatat capaian dengan meraih juara pertama kategori provinsi dengan kinerja terbaik dalam penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) dari Kementerian Dalam Negeri.

Meski demikian, Dedi secara terbuka mengingatkan jajarannya agar tidak menjadikan penghargaan sebagai tujuan utama. Ia bahkan menegaskan tidak ingin pemerintahannya terjebak pada budaya mengejar piagam.

“Tidak usah berpikir di bawah kepemimpinan saya untuk mendapatkan piagam. Biar saja tidak dapat penghargaan, yang penting rakyat merasakan hasil pembangunan,” tegasnya dalam pernyataan yang diunggah di kanal resminya.

Pernyataan itu seolah menjadi kritik tersirat terhadap fenomena yang belakangan ramai diperbincangkan, yakni praktik “membeli” penghargaan demi pencitraan. Sejumlah ajang award kerap dituding membuka ruang transaksional, di mana prestasi tak selalu menjadi satu-satunya ukuran.

Di tengah realitas tersebut, langkah Dedi Mulyadi menjadi kontras. Alih-alih tampil di panggung seremoni, ia memilih menempatkan kinerja sebagai legitimasi utama bukan deretan trofi di lemari prestasi..

Sekedar diketahu fenomena pejabat mengejar sebuah penghargaan sudah bukan rahasia umum. Kondisi ini karena ada pihak institusi yang menawarkan sejumlah nominasi prestasi dengan harga tertentu dengan seremonial yang dikemas mewah dan dihadiri pejabat selevel menteri. Padahal sesungguhnya kinerja para pejabat tersebut bisa dirasakan dan dilihat baik buruknya dinilai oleh publik.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini