Ditulis oleh: Nyimas Sakuntala Dewi -Aktivis Perempuan, Alumni GMNI
TANGGAL 21 April 2026, bangsa ini kembali mengenang sosok agung, Raden Ajeng Kartini. Ia bukan sekadar simbol peringatan tahunan, melainkan pelopor kesadaran kritis yang melampaui zamannya, yang berjuang membebaskan kaum perempuan dari belenggu ketidakadilan.
Namun, sejarah mencatat bahwa perjuangan ini bukanlah kisah tunggal.
Di sepanjang garis waktu dan bentang Nusantara, semangat itu hidup dalam diri para Srikandi hebat.
Mulai dari Raden Dewi Sartika yang mendirikan sekolah demi cahaya ilmu, Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia yang gagah berani mengangkat senjata, Martha Christina Tiahahu yang tangguh sejak muda, hingga Laksamana Malahayati yang memimpin armada laut.
Ada pula H.R. Rasuna Said yang lantang bersuara, Nyai Ahmad Dahlan yang menggerakkan hati, serta Fatmawati yang menjahit harapan bangsa.
Mereka semua membuktikan satu hal: Wanita Indonesia adalah pemikir, pemimpin, dan pejuang yang bermartabat.
Ironi di Era Modern
Namun, jika para pahlawan itu dapat melihat kondisi hari ini, mungkin mereka akan menghela napas panjang.
Dulu, perjuangan terberat adalah melawan tembok penjara dan adat yang membatasi ruang gerak.
Hari ini, pintu pendidikan telah terbuka lebar, teknologi ada di genggaman, tapi jiwa banyak perempuan justru terkurung dalam "penjara" yang berbeda.
Yang paling mengkhawatirkan, kearifan budaya kita kini semakin surut. Pertanyaan besar pun muncul:
"Yakinkah generasi hari ini benar mengenal sosok Kartini, atau sekadar tahu nama tanpa paham maknanya? Apakah mereka mengenang Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika, atau pahlawan lainnya?"
Sayangnya, wajah sejarah itu perlahan mulai pudar di ingatan. Adab, akhlak, dan etika yang dulu menjadi jati diri bangsa, kini seolah digantikan oleh gaya hidup asing.
Generasi muda lebih akrab dengan drama Korea, lebih hafal kehidupan artis, dan lebih sibuk dengan dunia maya, daripada mengenal akar budaya dan sejarah negerinya sendiri.
Pendidikan karakter seolah bergeser maknanya. Terlalu banyak yang rela mengeluarkan biaya besar demi mempercantik penampilan luar, membeli perawatan mahal, dan mengejar standar fisik semu.
Namun, minat untuk memperdalam ilmu, membaca buku, dan melatih cara berpikir kritis justru makin menipis.
Wajah boleh makin mulus, tapi akal budi tak bertambah.
Tubuh boleh makin modis, tapi etika dan kesadaran diri justru makin redup.
Bahaya Komodifikasi Perempuan
Yang paling memilukan adalah realita di ruang digital. Regulasi yang seharusnya menjadi pagar ternyata belum cukup ketat.
Media sosial yang seharusnya menjadi wadah gagasan, justru sering berubah menjadi pasar visual.
Banyak wanita yang tanpa sadar menempatkan diri hanya sebagai objek pandang. Memperlihatkan fisik, memamerkan bentuk, demi mengejar validasi dan transaksi jualan.
Sadarilah, Saudariku, wanita itu bukan santapan mata laki-laki. Wanita itu bukan pajangan di etalase toko.
Kita diciptakan Tuhan untuk dihargai karena kecerdasan, dihormati karena akhlak, dan didengar karena pendapat.
Saat kita lebih sibuk memikat nafsu daripada memikat pikiran, saat itulah kita meninggalkan jauh cita-cita Kartini.
Kita mundur kembali ke zaman di mana wanita hanya dianggap benda, bukan manusia yang utuh.
Realita di Kursi Kekuasaan
Memang benar, kini telah ada aturan kuota 30 persen bagi perempuan di legislatif dan eksekutif.
Akses pendidikan pun semakin luas. Namun, angka di atas kertas belum tentu menjamin kualitas.
Fakta menunjukkan, wanita yang benar-benar duduk di kursi pengambilan keputusan karena integritas, keberanian, dan ilmu yang mumpuni masih bisa dihitung jari.
Seringkali, kehadiran itu hanya menjadi pelengkap formalitas, bukan sebagai pengambil keputusan strategis.
Pintar saja tidak cukup jika tak didukung akses dan dana.
Cantik saja tak ada artinya jika tak diimbangi etika dan visi yang jelas.
Lalu, Apakah Semuanya Sudah Salah?
Mungkin banyak yang bertanya: "Apa yang salah dengan generasi sekarang?"
Jujur saja, tidak ada yang sepenuhnya salah. Selama di hati mereka masih tersimpan rasa gotong royong, masih ada empati terhadap sesama, dan masih menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan leluhur—maka harapan itu masih ada.
Hanya saja, kita perlu mengingatkan bahwa menjadi modern bukan berarti melupakan asal-usul. Mengikuti zaman bukan berarti menanggalkan jati diri.
Menghidupkan Kembali Api Semangat
Maka, di hari yang istimewa ini, mari kita ubah cara pandang bahwa memperingati Kartini bukan berarti hanya mengenakan kebaya atau berfoto cantik. Memperingati Kartini berarti membangunkan kesadaran.
Hargailah dirimu lebih dari sekadar nilai jual fisik. Kenalilah pahlawan-pahlawanmu, peliharalah adab dan budayamu.
Jadilah wanita yang ditakuti karena ketegasanmu, dihormati karena ilmunya, dan dicintai karena kebaikanmu.
Untuk pemerintah dan pengelola ruang digital, sudah saatnya memberikan aturan yang lebih tegas.
Jangan biarkan kebebasan berubah menjadi kebejatan moral.
Batasi, arahkan, dan lindungi martabat perempuan serta budaya bangsa dari komodifikasi yang merendahkan.
Kartini telah menyalakan api lebih dari satu abad lalu. Jangan biarkan api itu padam diterpa arus zaman yang salah arah.
Selamat merayakan Hari Kartini, wahai putri-putri Indonesia.
Semoga semangat kebebasan dan kecerdasan senantiasa menyala di dalam dada.



