![]() |
| Rohmat Hidayat (63) ssng motivator |
inijabar.com, Depok - Tak semua mahasiswa bisa menikmati momen wisuda dengan tenang. Seorang wisudawan Depok ini justru harus mengambil langkah nekat: menggadaikan barang berharganya demi bisa lulus.
Senang, haru dan bangga perasaan yang dirasakan Rohmat Hidayat (63) seorang warga Kampung Jatijajar, Tapos, Kota Depok yang baru saja menyelesaikan kuliah dengan program studi Doktor (S3) Ilmu Hukum di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung. Tak berselang lama langsung memberikan pendidikan motivasi dihadapan siswa SMA Islam Al Falah, Cibinong, Kabupaten Bogor, Rabu (29/4/2026).
Perjuangan hingga berhasil meraih gelar doktor hingga memutuskan menjadi motivator tersebut tidak lah mudah ia dapati. Rohmat mengungkapkan meski dirinya berasal dari keluarga tak punya terlebih bukan lagi usia muda, namun bukan suatu halangan, tekadnya hanya satu yakni menjadikan dirinya lebih baik dari sebelumnya dan ingin bermanfaat bagi sesama.
Rohmat yang akrab disapa sejak duduk dibangku SD sudah terbiasa mencari uang sendiri, lantaran sudah ditinggal kedua orang tuanya yang lebih dahulu berpulang. Tanpa rasa gengsi dirinya pun mengaku pernah berjualan kacang rebus, jagung rebus hingga kuli bangunan di wilayah Depok demi membiayai sekolahnya sendiri.
Dia menceritakan perjalanan singkat hidupnya hingga berada di titik saat ini. Perjuangan Rohmat begitu berat dirasakan saat mulai mengenyam pendidikan di bangku SD dan SMP hingga akhirnya tak bisa meneruskan pendidikannya ke tingkat SMA lantaran terkendala biaya.
“Saat SD saya sudah membiayai sekolah sendiri, dengan berjualan kacang rebus, jagung rebus bahkan saya juga berjualan layangan di lapangan bola. Tujuannya supaya saya punya duit dan besok saya bisa sekolah,” ujar Rohmat kepada inijabar, Rabu (30/4/2026).
Selain itu kata dia, untuk membiayai sekolah pun ia dapatkan dari hasil bekerja sebagai kuli bangunan. Agar sekolahnya tak ingin terganggu, pekerjaan tersebut dilakukan saat dirinya memanfaatkan waktu luang musim libur sekolah.
“Kalau saat libur sekolah itu seperti bulan puasa diliburkan satu bulan, saya ngikut kerja di bangunan. Itu terus berlangsung saat saya masih SD, hingga SMP pun demikian,” ungkap Rohmat.
Saat Rohmat hendak melanjutkan sekolahnya ke tingkat SMA, langkahnya terpaksa harus terhenti di tengah jalan. Karena tingginya biaya dan suatu halangan hal lainnya sehingga ia tak bisa melanjutkan ke jenjang sekolah selanjutnya.
“Dari situlah perjalanan hidup saya mulai tertati-tatih, bahkan saya tidak bisa lagi melanjutkan sekolah sampai ke perguruan tinggi. Langkah saya terhenti apalagi saat itu saya memutuskan untuk menikah,” katanya.
Kemudian, dari situ dirinya mulai merasa bahwa memutuskan perjalanan hidup dengan menikah pada usia yang terbilang dini bukan lah keputusan tepat. Karena menurutnya, pendidikan merupakan prioritas sebagai pondasi dalam seluruh aspek kehidupan.
“Saat itu memang saya belum punya basic pendidikan, akhirnya saya sempat berpisah dengan istri dan hidup saya mulai diambang kerugian. Bahkan hal itu kembali terulang sampai yang kedua kalinya, karena mungkin wawasan pendidikan saya yang masih belum memadai saat itu hanya lulus sampai di bangku SMP gitu,” jelasnya.
Kendati demikian, Rohmat berusaha untuk terus bertekad menjadikan dirinya lebih baik lagi serta bisa bermanfaat bagi sesama. Melalui pekerjaan yang layak, ia meyakini bahwa itu bisa menopang kehidupan sehari-hari apalagi untuk menabung, sehingga dirinya dapat melanjutkan kembali pendidikan yang sempat terhenti sampai ke Perguruan Tinggi.
“Dari situ lah mungkin Allah memberikan saya jalan, akhirnya ekonomi kehidupan saya mulai membaik. Terus saya mulai bangkit dengan mengambil kejar sekolah paket C pada 2008 sampai akhirnya pada 2012 bisa masuk kuliah,” kata dia.
Meski telah memasuki usia yang tak lagi muda, saat menempuh pendidikan perguruan tinggi. Rohmat mengaku tak pernah malu, karena menurutnya menuntut ilmu tak pernah mengenal batas waktu.
“Walaupun barangkali sampai gadaikan motor dan menjual mobil, untuk biaya kuliah tersebut. Alhamdulillah saya capai walaupun dengan perjalanan yang sangat letih dan memerlukan biaya yang sangat tinggi. Akhirnya saya dapat melangkah ke bangku kuliah kini sudah meraih sarjana S1, S2 hingga S3,” terangnya.
Kini perjuangan Rohmat Hidayat selama kurang lebih 14 tahun menempuh perkuliahan dengan biaya sendiri dari hasil bekerja dan sampai menggadaikan kendaraan pribadinya. Telah selesai dan lulus pada wisuda ke-107 program studi Doktor 2026 Ilmu Hukum, di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung pada Sabtu (11/4/2026).
Dengan mengangkat judul Disertasi tentang “Pemahaman Nikah Siri serta Dampak Implikasinya Terhadap Kepastian dan Keadilan Hukum” tersebut. Dirinya pun berharap ilmu yang ia dapati akan dapat bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat, terutama dalam mencapai tujuan kesuksesan, dan bahagia di masa mendatang.
Sebagai seorang Sarjana Doktor, tentunya Rohmat menginginkan cita-cita. Dia menegaskan setelah dirinya menempuh pendidikan hingga ke jenjang paling tinggi, ia ingin mengabdikan dirinya kepada masyarakat dengan menjadi seorang motivator.
“Untuk saat ini saya akan menjadi motivator, sementara untuk siswa-siswa sekolah. Seperti yang saya lakukan perdana hari ini, motivator untuk siswa SMA Islam Al Falah, Cibinong memberikan motivasi ke siswa tentang bagaimana membangun sistem, agar dapat meraih kesuksesan bahagia di masa depan. Melalui tiga kata kunci sukses yakni sukses belajar, sukses berkarir dan sukses berkeluarga,” pungkasnya. (Risky)
#perjuangan kuliah
#wisuda
#mahasiswa
#Depok
#kisah inspiratif



