Menakar Urgensi Wacana Walikota Bekasi Soal PNS Pakai Bahasa Inggris

Redaktur author photo
Ilustrasi

Wali Kota Tri Adhianto punya gagasan segar yakni biasakan aparatur sipil negara (ASN) berbahasa Inggris. Ide tersebut diungkapkan setelah beberapa kali mengunjungi sejumlah negara di Asia Timur seperti China, Jepang dan Korea guna menjajaki sejumlah program kerjasama.

Bayangkan jika semua ASN di Pemkot Bekasi bisa bahasa Inggris  pasti ketika rapat  terdengar seperti potongan dialog film Hollywood.

Mulainya dari rapat online tiap Jumat. “One day English,” begitu kira-kira kata Walikota Bekasi. Sebuah langkah kecil menuju kota besar. Atau setidaknya, menuju “Good morning, ladies and gentlemen” sebelum membahas gorong-gorong mampet.

Bayangkan suasana rapat:

“Sir, the drainage is very critical.”

“Yes, noted. But the budget is still… how to say… pending?”

Sementara itu, di luar layar Zoom, jalanan masih setia dengan lubang-lubangnya beberapa bahkan sudah cukup dalam untuk disebut “kolam tadah hujan internasional.” Aspal mungkin belum fasih berbahasa Inggris, tapi retaknya sudah mendunia.

Di sisi lain, laporan keuangan daerah menunjukkan angka SILPA yang tidak kecil uang mengendap yang entah menunggu diterjemahkan ke dalam bahasa apa sebelum dibelanjakan. Mungkin masih dalam tahap “translate to action.”

Sekolah-sekolah pun ikut dalam narasi ini. Ada ruang kelas yang atapnya lebih dulu “go international”, terbuka langsung ke langit. Siswa tidak hanya belajar bahasa Inggris, tapi juga praktik listening dari suara hujan yang turun tanpa subtitle.

Lalu soal pengangguran yang ikut naik. Mungkin ini juga bagian dari proses globalisasi: bersaing di level internasional, meski lowongannya masih lokal. “We are ready for global competition,” kata semangatnya. Tapi CV tetap dikirim ke pabrik sebelah.

Tentu saja, gagasan membiasakan bahasa Inggris bukan tanpa nilai. Dunia memang makin tanpa batas. Investor asing datang, kerja sama lintas negara dibuka dari Jepang sampai Korea Selatan. Tapi pertanyaannya sederhana: apakah kota ini sudah siap secara “subtitle”, atau baru di “dubbing”?

Karena menjadi kota internasional bukan hanya soal bahasa, tapi juga soal jalan yang mulus tanpa perlu diterjemahkan, sekolah yang kokoh tanpa perlu subtitle keselamatan, dan anggaran yang mengalir tanpa harus diartikan ulang.

Jadi, ketika ASN Kota Bekasi mulai berkata, “Let’s move forward,” warga mungkin hanya berharap satu hal sederhana. “Piutang PBB dihapus dong.”

Tulisan ini hanya opini, tidak mengatakan wacana berbahasa Inggris itu sebuah ide buruk apalagi ditentang. Namun kondisi saat ini yang dibutuhkan warga Kota Bekasi adalah pelayanan publik terbaik dari pemerintah Kota Bekasi meskipun hanya menggunakan bahasa isyarat.

Ditulis oleh: Iwan NK- Pemimpin Redaksi inijabar.com

Share:
Komentar

Berita Terkini