Peringati Hari Puisi Nasional, Adik Kandung Wiji Thukul : Puisi Tak Bisa Dibuat Dengan Teknologi

Redaktur author photo
Wahyu Susilo saat menjadi pembicara di acara Hari Puisi

inijabar.com, Depok –Adik kandung penyair ternama Wiji Thukul, Wahyu Susilo menyoroti keberlangsungan eksistensi Puisi dan Sastra Indonesia di masa mendatang. Dia menilai setiap zaman memiliki tantangan tersendiri, meski semakin berkembangnya teknologi dan media sosial. Namun setiap karya Puisi dan Sastra memiliki originalitas yang di mana memiliki keindahan dan rasa tersendiri.

“Misalnya Artificial Intelligence (AI), itu kan orang bisa saja bikin promp puisi melalui itu, tapi menurut saya keindahan sastra tidak bisa dibuat dengan teknologi apapun itu yaa sekalipun AI atau lainnya. Karena Puisi dan Sastra orang yang membuatnya dan mementaskannya itu dengan pakai rasa, setiap orang pun menurut saya bisa membedakan ini puisi asli atau puisi plagiat. Jadi itu juga hal yang juga patut mendapatkan perhatian,” kata Wahyu Susilo disela acara Bincang Puisi Pentas Musik dan Sastra, Hari Puisi Nasional, di Markas Seni Margo 331, Kota Depok, Rabu (29/4/2026).

Wahyu Susilo mendorong pengenalan pengetahuan serta pementasan Puisi Sastra tak hanya sekadar berhenti di tempat-tempat kesenian. Namun dapat juga dikenalkan di ruang-ruang publik lainnya seperti kawasan penduduk, sekolah, kampus dan sebagainya.

Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengingatkan kembali dan menumbuhkan minat gemar literasi di tengah gencarnya arus era digital. Menurutnya, minimnya pengajaran puisi dan sastra di dunia pendidikan sekolah juga menjadi kendala untuk melahirkan generasi penerus penyair di Indonesia.

“Saya kira lebih dipergiat lagi ya kegiatan-kegiatan literasi offlinenya, kemudian juga temu-temu sastra seperti ini tidak hanya di gedung-gedung kesenian. Tapi juga di kampung-kampung, sekolah-sekolah diajarkan sastra yang benar gitu. Jadi mungkin yang harus diajarkan di sekolah-sekolah bukan hanya menghapal siapa dan apa karyanya, tapi juga apresiasi pada karya-karya itu. Bahkan mungkin kalau diperlukan juga kritik terhadap karya-karya itu sendiri,” tuturnya.

Tak hanya itu, Pria yang dikenal aktif dalam pergerakan buruh migran itu pun juga menegaskan bahwa Peringatan Hari Puisi Nasional menjadi momentum penting bagi penyair-penyair dalam upaya melawan lupa, terutama yang menjadi korban dari penindasan.

“Ini momentum untuk upaya melawan lupa dari penyair-penyair yang sampai sekarang juga misalnya tidak kembali yang hilang misalnya seperti Wiji Thukul atau banyak penyair-penyair lainnya yang diberangus pada masa awal Orde Baru. Menjadi penting Hari Puisi kita juga tidak hanya dilakukan dengan mengenang kembali penyair-penyair besar, tapi kita juga harus melawan lupa pada penyair-penyair yang menjadi korban penindasan,” tegasnya.

Melalui acara peringatan Hari Puisi Nasional seperti ini, dirinya berharap ini menjadi pemacu semangat untuk memperkuat tumbuhnya kecintaan terhadap puisi dan sastra. Sehingga ke depan pegiat puisi dan sastra bisa semakin memperluas ruang dalam ekspresi dan berkarya. 

“Tentu ini juga menjadi dorongan yang kuat bagi semua pihak, bagi dunia pendidikan, media dan lainnya juga untuk memberi ruang yang setara bagi kegiatan-kegiatan sastra, utamanya puisi seperti itu. Karena menurut saya sekarang ruang bagi kegiatan-kegiatan sastra semakin terbatas,” pungkasnya. (Risky)

Share:
Komentar

Berita Terkini