![]() |
| Peluncuran buku 'Bocah Ledok' |
inijabar.com, Kota Bekasi - Sebuah ruang refleksi mengenai perjalanan hidup, proses perjuangan, dan harapan yang tumbuh dari keterbatasan hadir dalam acara peluncuran buku berjudul Bocah Ledok.
Kegiatan bedah buku dan refleksi itu diselenggarakan secara khidmat, di Aula Pondok Pesantren Daruttaubah, Kelurahan Harapan Jaya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, Sabtu (16/5/2026).
Buku tersebut merangkum kisah nyata seorang anak manusia, yang tumbuh dari lingkungan sederhana yang tidak dianggap, namun berhasil bangkit membuktikan diri melalui proses panjang.
Sosok sentral di balik istilah 'Bocah Ledok' tersebut, tidak lain adalah Rizki Topananda, yang kini mendedikasikan hidupnya sebagai pejabat publik di Kota Bekasi.
Penulis buku Bocah Ledok, R. Nur Alam, mengungkapkan bahwa ide awal penulisan, sejatinya direncanakan untuk merekam jejak prestasi politik semata.
Namun, dinamika itu berubah total saat ia mendalami fase masa lalu sang tokoh utama yang penuh liku, keterbatasan ekonomi, hingga rentetan stigma negatif di masa kecil.
"Bocah ledok itu merupakan frasa ejekan, yang sering diucapkan orang Bekasi atau Betawi untuk meremehkan seseorang. Artinya bocah kemarin sore, bocah ingusan yang tidak mengerti apa-apa. Namun, ketika saya tahu proses perjalanannya, beliau justru menjadikan hinaan dan cacian itu sebagai bahan bakar untuk menjadi penyemangat," ujar Alam di lokasi acara, Sabtu (16/5/2026).
Alam mengatakan, narasi yang dibangun murni mengedukasi generasi muda, agar menanamkan nilai-nilai kesabaran dan kerja keras saat menghadapi keterbatasan.
"Di tengah keterbatasan ekonomi, orang tuanya menanamkan nilai luhur, untuk tidak membalas keburukan dengan emosi, melainkan dengan diam, pergi, dan belajar. Terbukti, proses tidak pernah membohongi hasil," ungkapnya.
Sementara itu, Rizki Topananda, yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Komisi I DPRD Kota Bekasi sekaligus Ketua DPC PKB Kota Bekasi, menegaskan bahwa kehadiran buku tersebut, bukan bertujuan untuk menjual kesedihan masa lalu kepada publik.
"Saya tidak mau ada kesan menjual kesedihan. Buku ini justru ingin menyampaikan nilai perjuangan, bagaimana kita tetap melangkah di situasi apa pun sesuai kemampuan saat itu. Biarkan proses mengalir dengan niat baik, perjuangan besar, dan doa," tutur Rizki.
Pria yang akrab disapa Ujang di masa kecilnya itu juga menjelaskan, alasan emosional di balik pemilihan Pondok Pesantren Daruttaubah, sebagai tempat peluncuran buku. Bagi Rizki, pesantren tersebut merupakan tempatnya menempa diri dan menjadi saksi transisi penting dalam hidupnya.
"Di Daruttaubah ini saya pernah sekolah dan mondok. Di sinilah fondasi awal saya belajar organisasi, politik, dan agama secara luas dari para kiai. Jika masa sebelum SMA penuh dengan fase pahit, maka setelah masuk ke pesantren ini pola pikir dan hidup saya berubah total. Tempat ini adalah rumah dan fondasi besar kehidupan saya," jelasnya.
Melalui buku Bocah Ledok, Rizki berharap dokumen perjalanan hidupnya ini bisa memberikan inspirasi luas bagi masyarakat umum, terutama bagi siapa saja yang sedang berjuang, merangkak dari titik terendah demi mengubah keadaan. (Pandu)



