Ironi Kota Migas, Ekonomi Indramayu Jadi yang Paling Lambat di Jabar

Redaktur author photo
Kilang minyak Balongan Indramayu

inijabar.com, Indramayu- Kabupaten Indramayu yang selama puluhan tahun dikenal sebagai daerah penghasil minyak dan gas bumi justru mencatat pertumbuhan ekonomi paling rendah di Jawa Barat sepanjang 2025. 

Di tengah geliat investasi industri dan jasa modern di berbagai daerah, ekonomi Indramayu hanya tumbuh 3,09 persen.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat menunjukkan angka tersebut menjadi yang terendah di antara 27 kabupaten/kota di provinsi ini. Pertumbuhan Indramayu bahkan berada di bawah rata-rata ekonomi Jawa Barat secara keseluruhan.

Kepala Badan Pusat Statistik Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati menyebut seluruh daerah di Jawa Barat memang masih tumbuh positif. Namun, kesenjangan pertumbuhan antarwilayah kini semakin terlihat jelas.

Menurutnya, lambatnya pertumbuhan Indramayu berkaitan erat dengan struktur ekonomi daerah yang masih bertumpu pada sektor primer seperti migas dan pertanian tradisional.

Daerah Lain Melaju, Indramayu Tertinggal

Saat Indramayu tumbuh stagnan, sejumlah daerah lain di Jawa Barat justru melesat cukup tinggi. Kabupaten Kuningan tercatat tumbuh 6,98 persen, Majalengka 6,86 persen, Bandung 6,32 persen, dan Kabupaten Cirebon mencapai 6,23 persen.

Fenomena ini memperlihatkan perubahan peta ekonomi Jawa Barat. Wilayah yang memiliki kawasan industri, investasi manufaktur, hingga sektor jasa modern kini tumbuh jauh lebih cepat dibanding daerah berbasis sumber daya alam mentah.

Majalengka misalnya mulai menikmati dampak pengembangan kawasan Rebana dan pembangunan konektivitas baru. Sementara Cirebon mengalami peningkatan aktivitas perdagangan dan jasa.

Kutukan Daerah Kaya Sumber Daya?

Kondisi Indramayu dinilai menjadi paradoks ekonomi yang terus berulang. Sebagai daerah penghasil energi nasional sekaligus lumbung pangan, daerah ini memiliki sumber daya alam besar tetapi belum mampu menciptakan efek berantai ekonomi yang kuat.

Aktivitas migas di Indramayu dinilai belum banyak mendorong tumbuhnya industri hilir, kawasan manufaktur baru, maupun penciptaan lapangan kerja modern dalam skala besar.

Akibatnya, ekonomi daerah masih sangat bergantung pada sektor primer yang rentan terhadap fluktuasi harga komoditas dan minim nilai tambah.

Infrastruktur dan Investasi Jadi Penentu

Data BPS memperlihatkan pusat pertumbuhan ekonomi Jawa Barat kini mulai bergeser ke wilayah timur dan selatan yang agresif menarik investasi baru.

Daerah yang memiliki akses infrastruktur, kawasan industri, serta ekosistem jasa modern cenderung lebih cepat berkembang dibanding wilayah yang hanya mengandalkan eksploitasi sumber daya alam.

Situasi ini menjadi alarm bagi Indramayu agar segera melakukan transformasi ekonomi. Tanpa diversifikasi industri dan penguatan sektor hilir, daerah kaya migas itu berpotensi terus tertinggal di tengah persaingan ekonomi baru di Jawa Barat.

Mengapa pertumbuhan ekonomi Indramayu paling rendah di Jawa Barat?

Karena struktur ekonomi Indramayu masih bergantung pada sektor primer seperti migas dan pertanian tradisional yang dinilai kurang menciptakan nilai tambah besar.

Berapa pertumbuhan ekonomi Indramayu pada 2025?

Ekonomi Indramayu tumbuh 3,09 persen, terendah di antara 27 kabupaten/kota di Jawa Barat.

Daerah mana yang pertumbuhan ekonominya tertinggi di Jawa Barat?

Kabupaten Kuningan mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 6,98 persen, disusul Majalengka dan Kabupaten Bandung.

Apa penyebab daerah lain tumbuh lebih cepat?

Wilayah lain didorong investasi industri, pengembangan kawasan manufaktur, sektor jasa modern, dan pembangunan infrastruktur baru.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini