Kirab Mahkota Binokasih Dikritik Abaikan Warisan Tarumanegara dan Budaya Lain di Jabar

Redaktur author photo

 

Sorotan Tajam: Kirab Budaya Dinilai Belum Representasikan Keberagaman Jawa Barat

inijabar.com, Kota Bandung- Kemeriahan Kirab Budaya Mahkota Binokasih yang digelar pemerintah menuai sorotan kritis dari kalangan akademisi. 

Di balik gegap gempita perayaan, muncul pertanyaan serius, apakah kegiatan ini benar-benar merepresentasikan keberagaman budaya Jawa Barat secara utuh?

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Padjadjaran, Yogi Suprayogi, menilai kirab tersebut masih terlalu terpusat pada narasi budaya Sunda, khususnya yang berkaitan dengan Kerajaan Pajajaran. Padahal, sejarah dan identitas Jawa Barat jauh lebih kompleks dari itu.

Budaya Jabar Bukan Hanya Sunda dan Pajajaran

Menurut Yogi, Jawa Barat tidak bisa direduksi hanya sebagai representasi budaya Sunda klasik. Ia menegaskan bahwa ada banyak entitas budaya lain yang memiliki akar sejarah kuat namun belum mendapatkan panggung yang layak.

Salah satu yang paling disorot adalah keberadaan Tarumanegara, kerajaan kuno yang menjadi salah satu peradaban tertua di Nusantara. Jejak sejarah Tarumanegara dinilai belum diangkat secara proporsional dalam kirab budaya tersebut.

Selain itu, budaya Cirebon dengan corak pesisirnya, serta pengaruh Betawi di wilayah penyangga seperti Bekasi dan Depok, juga disebut masih minim representasi.

“Kalau ingin menjadi event budaya besar, narasi yang dibangun harus inklusif. Jawa Barat itu plural, bukan tunggal,” tegas Yogi.

Jangan Sampai Hanya Seremonial

Lebih jauh, Yogi mengingatkan bahwa kegiatan budaya seperti kirab tidak boleh berhenti pada level seremoni semata. Tanpa arah kebijakan yang jelas, agenda semacam ini berisiko menjadi rutinitas tahunan tanpa dampak strategis.

Ia menekankan pentingnya peta jalan kebudayaan daerah yang mampu mengakomodasi seluruh identitas budaya,  menjaga keseimbangan narasi sejarah, dan mendorong edukasi publik berbasis budaya

“Kalau tidak terstruktur, ini hanya jadi festival, bukan pembangunan budaya,” ujarnya.

Apresiasi Tetap Ada, Tapi Perlu Evaluasi Serius

Meski melontarkan kritik, Yogi tetap mengapresiasi langkah pemerintah dalam mengangkat Mahkota Binokasih sebagai simbol budaya. Upaya tersebut dinilai sebagai awal penting dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap sejarah.

Namun ia mengingatkan, langkah awal itu harus diikuti dengan keberanian membuka ruang bagi narasi lain yang selama ini kurang terekspos.

Kirab Jadi Representasi Utuh Jawa Barat

Ke depan, Kirab Budaya Mahkota Binokasih diharapkan tidak hanya menjadi pesta visual, tetapi juga menjadi cermin keberagaman Jawa Barat secara menyeluruh.

Dengan menghadirkan seluruh elemen budaya dari Sunda, Cirebon, Betawi, hingga warisan besar seperti Tarumanegara, kirab ini berpotensi menjadi ikon budaya nasional, bahkan internasional.

Jika tidak, kritik yang muncul hari ini bisa menjadi alarm bahwa perayaan besar belum tentu mencerminkan identitas yang utuh.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini