Miris, 29 Siswa SMPN 1 Mangunjaya Pangandaran Belum Bisa Membaca

Redaktur author photo
SMPN 1 Mangunjaya Pangandaran

inijabar.com, Pangandaran- Fenomena mengejutkan terjadi di SMPN 1 Mangunjaya. Sebanyak 29 siswa dari kelas 7 hingga kelas 9 diketahui belum mampu membaca dengan lancar. Kondisi ini kini menjadi perhatian pihak sekolah, pemerintah daerah, hingga dunia pendidikan di Kabupaten Pangandaran.

Data sekolah mencatat, dari total 29 siswa tersebut terdiri atas 11 siswa kelas 7, 16 siswa kelas 8, dan 2 siswa kelas 9. Temuan ini memunculkan pertanyaan besar mengenai kualitas pembelajaran dasar, pendampingan keluarga, hingga dampak sistem pendidikan pascapandemi.

Kepala sekolah Hadi Sumarna menegaskan pihak sekolah saat ini sedang melakukan penelitian dan pengkajian mendalam untuk mengetahui akar persoalan yang menyebabkan puluhan siswa tersebut belum mampu membaca.

“Pihak sekolah akan meneliti dan mengkaji penyebab anak-anak belum bisa membaca. Semua anak tersebut tidak bisa disebut berkebutuhan khusus karena memang perlu adanya ahli dan instrumen untuk menentukan anak tersebut berkebutuhan khusus,” kata Hadi Sumarna.

Tidak Semua Anak Berkebutuhan Khusus

Pernyataan pihak sekolah menjadi penting karena muncul anggapan bahwa siswa yang belum bisa membaca otomatis masuk kategori anak berkebutuhan khusus. Padahal, menurut dunia pendidikan dan psikologi anak, penetapan status tersebut harus melalui pemeriksaan profesional menggunakan instrumen khusus.

Artinya, faktor penyebab ketidakmampuan membaca bisa sangat beragam. Mulai dari lemahnya kemampuan literasi sejak SD, minimnya pendampingan belajar di rumah, kesulitan ekonomi keluarga, kurangnya motivasi belajar, hingga dampak pembelajaran daring saat pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu.

Kondisi ini menunjukkan persoalan literasi dasar masih menjadi pekerjaan rumah serius di sejumlah daerah, termasuk di wilayah selatan Jawa Barat.

Disdikpora Pangandaran Turun Langsung

Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pangandaran langsung mendatangi sekolah untuk melakukan evaluasi sekaligus memberi dukungan kepada tenaga pendidik.

Disdikpora juga disebut telah memberikan motivasi kepada guru agar penanganan siswa dilakukan secara bertahap dan lebih intensif.

Sekolah kini menyiapkan beberapa guru khusus yang akan fokus membantu siswa agar bisa membaca. Program pendampingan ini diharapkan menjadi langkah awal pemulihan kemampuan literasi para siswa.

“Ada beberapa guru yang memang akan dipersiapkan untuk membantu agar anak tersebut bisa membaca,” ujar Hadi Sumarna.

Alarm Krisis Literasi di Daerah

Kasus di SMPN 1 Mangunjaya menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan. Sebab kemampuan membaca merupakan fondasi utama seluruh proses belajar siswa. Tanpa kemampuan membaca yang baik, siswa akan kesulitan memahami mata pelajaran lain seperti matematika, IPA, IPS, hingga teknologi.

Fenomena siswa SMP belum bisa membaca juga memperlihatkan adanya kemungkinan “learning loss” atau kehilangan kemampuan belajar akibat proses pendidikan yang tidak optimal dalam beberapa tahun terakhir.

Pengamat pendidikan menilai penanganan persoalan seperti ini tidak cukup hanya dilakukan sekolah. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, orang tua, psikolog pendidikan, dan masyarakat agar siswa mendapat pendampingan yang tepat.

Butuh Evaluasi Pendidikan Dasar

Kasus ini sekaligus menjadi momentum evaluasi kualitas pendidikan dasar di daerah. Banyak pihak menilai kemampuan literasi siswa seharusnya sudah terdeteksi sejak tingkat sekolah dasar sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Selain itu, pemerataan kualitas guru, metode belajar yang adaptif, serta penguatan budaya membaca dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah kasus serupa terjadi di sekolah lain.

Kini publik menanti langkah konkret pemerintah daerah dan pihak sekolah dalam memulihkan kemampuan membaca puluhan siswa tersebut agar mereka tidak tertinggal lebih jauh dalam pendidikan maupun masa depan mereka.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini