![]() |
| SMPN 3 Depok |
inijabar.com, Depok - Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) seharusnya menjadi titik balik transformasi dunia pendidikan agar semakin lebih baik justru masih dicederai dengan masih banyaknya persoalan, salah satunya yakni terkait penyediaan sarana prasarana yang layak di sekolah guna menunjang kualitas pembelajaran siswa.
Pemandangan ironi yang masih terjadi salah satunya yakni pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Kota Depok. Para siswa di sekolah tersebut terpaksa harus rela belajar di lantai sampai empat bulan lantaran tidak adanya meja dan kursi.
Menanggapi hal tersebut, Pakar dan Pengamat Pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Itje Chodidjah menilai bahwa proses panjang dan berbelitnya birokrasi dalam penggadaan meja dan kursi di SMPN 3 Depok, akan menjadi pemicu buruknya peristiwa bagi dunia pendidikan.
"Ini membutuhkan refleksi nasional, utamanya pendidikan karena peristiwa negatif semacam ini akan membekas luka batinnya. Banyak peristiwa buruk yang menimpa bangsa ini yang diakibatkan oleh urusan birokrasi," ujar Itje dalam keterangannya kepada awak media, Sabtu (2/5/2026).
Wanita yang pernah menjabat Ketua Komisi Nasional (Komnas) Indonesia untuk UNESCO itu pun mengatakan bakal ada dampak yang cukup besar bagi siswa SMPN 3 Depok apabila masih dibiarkan dengan kondisi belajar dilantai tanpa menggunakan meja dan kursi.
"Secara fisik pasti besar akibatnya, terhadap posisi tubuh anak, rentan kelelahan. Namun yang lebih besar adalah dampak secara psikologis. Konsentrasi anak terganggu dan anak menyaksikan rendahnya penyelenggara pendidikan baik sekolah maupun Pemda sebagai contoh moral kerja bagi anak-anak yang sedang bertumbuh," kata Itje.
Menurutnya, kondisi ini keterlaluan, karena selevel sekolah negeri yang didanai Pemerintah Kota Depok tetapi tidak tersedianya meja dan kursi siswa untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
"Ini sebenarnya kebangetan ya, kalau sekolah negeri yang dibiayai oleh Pemerintah (terutama Pemda) tidak mendeteksi sampai pada situasi seperti ini. Ada pengawas sekolah yang mestinya mendeteksi sejak awal, tidak menunggu sampai keadaan memburuk. Ada akreditasi, ada rapor pendidikan. Mestinya semua informasi yang ada tersebut dibaca cermat dan ditindaklanjuti sesegera mungkin, tidak menunggu parah," tuturnya.
Tak hanya itu, persoalan di SMPN 3 Kota Depok bukan hanya sekadar tidak adanya sarana meja dan kursi saja, namun ruangan kelas yang dirasa panas karena tidak tersedianya pendingin ruangan atau kipas angin. Tak luput berdampak ke para siswa yang mengakibatkan tidak merasa nyaman dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah.
"Lah kalau bangku saja lalai, apalagi perangkat yang tidak sevital meja kursi. Mari tidak mendzalimi masyarakat sebagai pembayar pajak. Ini masalah hidupnya anak-anak bukan masalah birokrasi," tegasnya.
Sementara itu, saat dikonfirmasi Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Depok, Wahid Suryono tak menampik tentang siswa SMPN 3 Depok yang belajar dilantai karena tidak adanya meja dan kursi.
Dia mengakui bahwa pengadaan meja dan kursi untuk siswa SMPN 3 Depok sedang dalam tahap proses.
"Saat ini sedang berproses pengadaannya. Insya Allah semua akan tuntas diselesaikan," kata Wahid, Sabtu (2/5/2026).
Wahid juga menyampaikan, terealisasinya pengadaan meja dan kursi bagi SMPN 3 Kota Depok akan terlaksana pada tahun ajaran mendatang.
"Iya, sedang berproses. Semoga tahun ajaran baru nanti semuanya sudah lengkap," pungkasnya. (Risky)



