Anak Ber-IQ 132 di Kota Bekasi Tiba-Tiba 'Hilang' dari Sistem SPMB Maung, Ortu nya Bikin Surat Terbuka Ke KDM

Redaktur author photo
Surat terbuka dari orang tua siswa dikirim ke KDM

inijabar.com, Kota Bekasi – Polemik pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Program Sekolah Maung Jawa Barat 2026 kembali mencuat. Kali ini, seorang orang tua siswa di Kota Bekasi mengaku terpukul setelah data pendaftaran putrinya yang telah memenuhi syarat jalur Potensi Akademik diduga hilang dari sistem saat proses verifikasi berlangsung.

Melalui surat terbuka yang ditujukan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, orang tua dari siswi bernama Athaya Balqis Atirana menyampaikan keluhan dan meminta adanya audit menyeluruh terhadap proses seleksi di SMA Negeri 1 Bekasi.

Kasus ini menambah daftar panjang keluhan masyarakat terkait pelaksanaan SPMB Sekolah Maung yang belakangan menjadi sorotan publik.

Perjuangan Panjang Demi Masa Depan Anak

Dalam surat tersebut, orang tua Athaya menjelaskan bahwa putrinya mendaftar melalui jalur Potensi Akademik di SMA Negeri 1 Bekasi.

Menurutnya, seluruh persyaratan telah dipenuhi sejak awal pendaftaran, mulai dari nilai rapor, hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA), hingga syarat khusus berupa hasil tes IQ di atas 130 yang diterbitkan oleh psikolog terdaftar.

"Semua syarat ini sudah kami penuhi lengkap saat pendaftaran," tulis orang tua Athaya dalam surat terbukanya.

Namun, di tengah proses verifikasi, muncul notifikasi perbaikan dokumen yang meminta sejumlah dokumen tambahan. Di antaranya surat izin psikolog, bukti keanggotaan organisasi profesi, hingga keterangan penggunaan skala Wechsler dalam tes IQ.

Meski menganggap persyaratan tersebut tidak tercantum secara rinci dalam petunjuk teknis awal, keluarga Athaya tetap berupaya melengkapinya demi memastikan proses pendaftaran anaknya tidak terkendala.

Data Pendaftaran Mendadak Hilang

Puncak kekecewaan terjadi setelah seluruh dokumen tambahan diunggah kembali ke sistem.

Keluarga mengaku terkejut karena data pendaftaran Athaya justru tidak lagi muncul dalam aplikasi SPMB.

Mereka menyebut status pendaftaran anaknya seolah-olah tidak pernah melakukan pendaftaran sama sekali.

Dalam surat itu disebutkan bahwa seluruh data yang sebelumnya telah masuk ke sistem mendadak hilang setelah proses perbaikan dokumen dilakukan.

Kondisi tersebut membuat keluarga mempertanyakan transparansi dan keamanan sistem yang digunakan dalam proses penerimaan siswa baru.

Kuota Diduga Berkurang dari 38 Menjadi 25

Tidak hanya soal hilangnya data pendaftaran, keluarga Athaya juga menyoroti perubahan kuota jalur Potensi Akademik di SMA Negeri 1 Bekasi.

Mereka mengaku menemukan adanya perubahan kuota yang sebelumnya tercatat sebanyak 38 kursi menjadi hanya 25 kursi.

Perubahan tersebut disebut terjadi tanpa adanya penjelasan resmi yang mereka ketahui.

Orang tua Athaya mempertanyakan ke mana 13 kursi yang hilang tersebut dialihkan.

"Kami meminta penjelasan terbuka kepada publik mengenai perubahan kuota tersebut," tulisnya.

Pertanyakan Peserta yang Lolos

Keluarga Athaya juga mempertanyakan hasil verifikasi yang menurut mereka menunjukkan adanya peserta dengan nilai rapor dan TKA lebih rendah namun tetap dinyatakan lolos.

Mereka meminta dilakukan verifikasi ulang terhadap seluruh peserta yang diterima melalui jalur Potensi Akademik agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dalam suratnya, keluarga bahkan mendesak dilakukan audit forensik terhadap sistem SPMB untuk menelusuri kapan dan oleh siapa data pendaftaran Athaya dihapus atau hilang dari sistem.

"Bukan Manusia Unggulan, Tapi Manusia Dihilangkan"

Bagian paling menyentuh dalam surat tersebut adalah ungkapan kekecewaan orang tua terhadap nasib anaknya.

Mereka menyebut Program Sekolah Maung sejatinya dirancang untuk menjaring siswa unggulan. Namun, menurut mereka, yang terjadi justru sebaliknya.

"Anak kami Athaya sudah berusaha, orang tua sudah berkorban biaya tes IQ, tetapi diperlakukan seperti tidak pernah ada. Ini bukan manusia unggulan, ini manusia dihilangkan," tulis orang tua Athaya.

Mereka berharap Gubernur Jawa Barat turun tangan secara langsung untuk memastikan proses seleksi berlangsung adil, transparan, dan tidak merugikan siswa yang telah memenuhi seluruh persyaratan.

Kasus ini menjadi salah satu dari sejumlah laporan masyarakat yang muncul terkait pelaksanaan SPMB Sekolah Maung 2026, yang saat ini tengah menjadi perhatian publik di Jawa Barat.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini