![]() |
| Anggota DPR RI Denny Cagur saat tampil di acara Stand Up Komedi di Depok |
inijabar.com, Depok – Komedian senior sekaligus anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Denny Cagur mengatakan bahwa setiap warga negara berhak untuk menyampaikan kritik sosial yang diatur undang-undang melalui caranya tersendiri termasuk medium seni.
“Sebenarnya kita dalam menyampaikan pendapat untuk memberikan kritik sosial di setiap medium seni, punya caranya sendiri. Bisa melalui komedi, bisa melalui musik, melalui hal apapun di negara demokrasi ini. Melalui media apapun kita bisa memberikan kritik sosial,” ujar Denny usai menghadiri acara Stand Up Garis Merah dalam memperingati Bulan Bung Karno, di kawasan Jalan Juanda, Kota Depok, Minggu (21/6/2026).
Denny juga menyatakan, tren komika yang kerap membawakan materi tajam bermuatan kritik sosial adalah hak setiap warga negara, dan seni merupakan salah satu kendaraan yang sah untuk menyampaikan hal tersebut.
Meski mendukung penuh kebebasan berekspresi melalui cara tersebut. Komedian yang akrab dikenal personil grup Calon Guru (Cagur) jebolan Universitas Negeri Jakarta tersebut berpesan bahwa tantangan terbesar bagi para komika saat ini adalah bagaimana mengemas kritik agar tidak sekadar menjadi amarah. Melainkan menjadi refleksi yang konstruktif bagi pembuat kebijakan.
Di hadapan para peserta komika, Denny juga sempat bernostalgia mengenai perjalanan kariernya. Dia mengingatkan para komika muda bahwa panggung megah tidak dibangun dalam waktu yang singkat. Di era digital di mana banyak orang menginginkan popularitas instan, Denny menekankan kembali pentingnya sebuah proses.
Denny menceritakan bahwa dirinya pun mengawali mulai merintis kariernya dari bawah, mengikuti berbagai lomba persis seperti yang dirasakan para peserta hari ini.
"Tetap semangat untuk semua keinginan dan tujuan. Nikmati prosesnya. Semoga mereka juga bisa sampai ke titik yang mereka harapkan," tuturnya.
Denny juga berharap kegiatan ini tidak berhenti pada gelak tawa saja, tapi juga bisa menjadikan momentum ini sebagai refleksi bersama mengenai kondisi bangsa saat ini.
Dia pun mengajak masyarakat khususnya generasi muda untuk menggali kembali pemikiran dan rekam jejak Sang Proklamator.
"Semoga kita bisa mempelajari keteladanan Bapak Soekarno. Kita bisa ambil banyak sekali keteladanan yang bisa kita berikan buat bangsa dan negara di kondisi sekarang ini," tuturnya.
Sementara itu, Ketua Panitia sekaligus Wakil Ketua Bidang Pemuda dan Olahraga DPC PDI Perjuangan Kota Depok, Anggayuda Prabu Mesta menambahkan kegiatan tersebut dihadirkan untuk memberikan ruang positif bagi anak muda agar dapat menyalurkan gagasan, keresahan, dan kreativitas melalui medium komedi.
Baginya, keberadaan komunitas Stand Up Indo dalam menyelenggarakan acara ini dapat menjadi wadah alternatif khususnya generasi muda yang belum memiliki aktivitas atau ruang berekspresi.
"Di saat teman-teman yang lain tidak punya kegiatan atau aktivitas apa pun. Dengan adanya komunitas ini mereka bisa meluapkan kreativitas," katanya.
Angga menilai para komika muda yang tampil pada acara ini tidak sekadar menghibur. Tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap kondisi sosial yang terjadi, baik di tingkat nasional maupun di Kota Depok.
"Teman-teman komika ini ternyata mereka sebenarnya secara tidak langsung terbuka dengan keadaan yang ada di bangsa kita ini, khususnya di Depok. Mereka peduli, bahkan mengkritik dengan payungnya komedi," ungkapnya.
Angga menyebut fenomena tersebut menjadi bentuk baru untuk menyampaikan aspirasi yang lebih dekat dengan masyarakat dan pemangku kebijakan. Kata dia, jika dahulu kritik sosial populer disampaikan melalui kelompok lawak seperti Warkop DKI, kini panggung stand up comedy menjadi medium yang dinilai relevan dengan perkembangan zaman.
"Nah ini bisa jadi tren baru. Kalau dahulu mungkin Warkop DKI dengan siaran-siarannya di radio, sekarang sudah era nya anak-anak komika muda yang menyampaikan sesuatu dengan pakemnya lewat komedi," tandasnya.
Dia pun menambahkan, acara yang digelar tersebut dapat diakses masyarakat dengan gratis dan terbuka untuk umum. Selain tidak memungut biaya bagi pengunjung, para peserta komika juga tidak dikenakan biaya pendaftaran.
Meski hanya menampilkan 30 orang komika. Namun antusiasme masyarakat terbilang tinggi, bahkan banyak peserta yang masih masuk dalam daftar tunggu.
"Pada faktanya sebenarnya pendaftar banyak, makanya terhitung waiting list. Tapi akhirnya kita bisa bilang acara ini berhasil, semua terhibur, semua berkumpul, dan semua bersilaturahmi," tuturnya.
Menariknya, persiapan acara dilakukan dalam waktu relatif singkat yakni kurang dari satu bulan atau sekitar tiga minggu. Namun, tanpa promosi besar-besaran, kegiatan tersebut tetap mampu menarik peserta dan penonton dari berbagai daerah.
"Peserta asalnya dari Kota Depok dan Jabodetabek, bahkan ada juga yang dari Sukabumi. Tapi memang mayoritas wadahnya ada di Kota Depok," bebernya.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas para komika. Panitia juga meningkatkan total hadiah yang semula disiapkan sekitar Rp4 juta menjadi Rp10 juta untuk seluruh para pemenang juara pertama, kedua, dan ketiga.
"Mari gunakan semangat Bung Karno untuk kemajuan negara kita ini, dengan apa pun caranya. Kita ingin memfasilitasi teman-teman muda supaya mereka bisa berkreativitas, karena kalau tidak ada aktivitas yang dilakukan, mereka cenderung melakukan kegiatan negatif," katanya.
Menutup pernyataannya Angga berharap ke depan, bisa menjadikan Stand Up Garis Merah tersebut sebagai agenda tahunan. Agar para komika lokal memiliki panggung yang berkelanjutan dan merasa karya serta kreativitasnya dihargai.
"Mudah-mudahan per tahun acara ini kita adakan rutin. Ini akan jadi acuan buat mereka agar karya kreatifitasnya merasa dihargai" pungkasnya. (Risky)



