![]() |
| Gubernur Jabar Dedi Mulyadi saat melaksanakan Sensus Ekonomi di kediamannya di Lembur Pakuan Subang |
inijabar.com, Subang – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali mencuri perhatian saat menjadi responden dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. Dalam pendataan yang dilakukan di kediamannya di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang.
Dedi secara terbuka mengungkap sejumlah usaha yang dimilikinya, mulai dari sektor pertanian, peternakan, hingga aktivitas sebagai content creator.
Momen sensus yang berlangsung pada Minggu itu pun menjadi sorotan tersendiri. Bukan hanya karena status Dedi sebagai kepala daerah, tetapi juga karena pengakuannya mengenai ragam usaha yang dijalankan di tengah citranya yang selama ini lekat dengan aktivitas di media sosial. Tak sedikit yang kemudian menjuluki Dedi sebagai “Gubernur Konten”.
Dedi Mulyadi Akui Punya Usaha Peternakan, Sawah hingga Konten Kreator
Saat didata petugas Sensus Ekonomi 2026, Dedi Mulyadi menyebut dirinya memiliki usaha di sektor peternakan dan pertanian. Ia mengaku memelihara ratusan domba dan sapi, serta memiliki sawah yang hasilnya dijual.
“Ya ada usaha peternakan, ratusan domba dan sapi. Ada juga sawah, ya hasilnya dijual,” kata Dedi saat menjawab pertanyaan petugas sensus di rumahnya, Minggu.
Tak berhenti di situ, Dedi juga mengakui dirinya memiliki aktivitas usaha sebagai content creator. Pengakuan ini mempertegas bahwa peran media sosial yang selama ini melekat pada dirinya bukan semata ruang komunikasi publik, tetapi juga menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang tercatat dalam sensus.
Selain peternakan, pertanian, dan konten digital, Dedi menyebut dirinya juga memiliki sejumlah lahan. Namun, lahan-lahan tersebut disebut tidak disewakan kepada pihak lain.
Ditanya Kantor Content Creator, Dedi Jawab Tak Punya
Salah satu bagian menarik dalam proses sensus tersebut adalah ketika petugas menanyakan lebih jauh soal dukungan usaha content creator yang dijalankannya. Petugas menanyakan apakah Dedi memiliki bangunan kantor khusus untuk kegiatan tersebut.
Menjawab pertanyaan itu, Dedi menegaskan dirinya tidak memiliki kantor yang secara khusus berkaitan dengan usaha content creator. Hal itu menunjukkan bahwa aktivitas konten digital yang dijalankannya tidak berbasis pada kantor formal, melainkan lebih fleksibel dan menyatu dengan aktivitas kesehariannya.
Jawaban itu sekaligus memperlihatkan wajah baru ekonomi digital, di mana profesi pembuat konten kini dapat berdiri sebagai aktivitas usaha tersendiri tanpa harus selalu ditopang infrastruktur perkantoran seperti bisnis konvensional.
Sensus Ekonomi 2026 Sentuh Kepala Daerah
Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 terhadap Dedi Mulyadi di kediamannya juga disaksikan langsung oleh Wakil Ketua Badan Pusat Statistik, Sonny Harry Budiutomo Harmadi. Kehadiran pejabat BPS dalam pendataan tersebut menegaskan pentingnya partisipasi semua pelaku usaha, termasuk kepala daerah, dalam menyukseskan sensus ekonomi.
Sensus ini menjadi instrumen penting untuk memotret aktivitas ekonomi masyarakat secara menyeluruh, mulai dari usaha skala besar hingga usaha rumah tangga dan ekonomi kreatif. Fakta bahwa seorang gubernur pun didata sebagai pelaku usaha menunjukkan bahwa sensus tidak hanya menyasar pelaku bisnis formal, tetapi seluruh kegiatan ekonomi yang menghasilkan nilai tambah.
“Gubernur Konten” dan Citra Baru Kepala Daerah
Julukan “Gubernur Konten” yang kini melekat pada Dedi Mulyadi bukan tanpa alasan. Selama ini, mantan Bupati Purwakarta itu dikenal aktif memproduksi konten di berbagai platform digital dengan gaya khas yang dekat dengan warga, isu sosial, budaya Sunda, hingga kebijakan publik.
Kini, aktivitas itu bukan sekadar alat komunikasi politik, melainkan juga diakui sebagai bagian dari unit usaha yang masuk dalam pendataan resmi negara. Fenomena ini memperlihatkan perubahan lanskap ekonomi di era digital, ketika profesi pembuat konten telah menjadi bagian dari ekosistem usaha yang nyata dan terukur.
Di satu sisi, pengakuan Dedi soal usaha peternakan dan pertanian menunjukkan akar ekonominya tetap berpijak pada sektor riil. Namun di sisi lain, statusnya sebagai content creator menegaskan bahwa figur kepala daerah masa kini juga dapat berperan di sektor ekonomi digital.
Potret Ekonomi Dedi Mulyadi: Tradisional Bertemu Digital
Jika ditarik lebih jauh, profil usaha Dedi Mulyadi dalam Sensus Ekonomi 2026 menggambarkan perpaduan antara ekonomi tradisional dan ekonomi modern. Peternakan, sawah, dan lahan merupakan representasi usaha berbasis sumber daya alam yang sudah lama menjadi penopang ekonomi masyarakat Jawa Barat. Sementara content creator adalah simbol ekonomi baru yang tumbuh pesat berkat teknologi dan platform digital.
Perpaduan inilah yang membuat proses sensus terhadap Dedi menarik perhatian publik. Ia tidak hanya hadir sebagai gubernur, tetapi juga sebagai potret pelaku usaha dengan model bisnis yang beragam—dari kandang ternak hingga kamera konten.
Sensus Ekonomi Bukan Sekadar Pendataan
Sorotan terhadap sensus di rumah Dedi Mulyadi juga memberi pesan bahwa Sensus Ekonomi 2026 bukan sekadar kegiatan administratif. Pendataan ini menjadi cermin perubahan struktur ekonomi Indonesia, termasuk di Jawa Barat, yang kini tidak lagi didominasi oleh sektor usaha konvensional semata.
Usaha peternakan, pertanian, lahan, hingga content creator semuanya masuk dalam peta ekonomi yang ingin dibaca pemerintah melalui sensus. Dengan data tersebut, kebijakan pembangunan, dukungan pembiayaan, pembinaan UMKM, hingga strategi pengembangan ekonomi digital dapat disusun lebih akurat.
Pendataan terhadap Dedi Mulyadi dalam Sensus Ekonomi 2026 menghadirkan gambaran unik tentang sosok gubernur yang tidak hanya aktif di pemerintahan, tetapi juga memiliki jejak usaha di berbagai sektor. Dari ratusan domba dan sapi, sawah yang hasilnya dijual, hingga aktivitas sebagai content creator, semua menjadi bagian dari profil ekonominya.
Tak heran jika momen ini memunculkan label baru: Dedi Mulyadi, Gubernur Konten dengan usaha dari kandang hingga kamera.(*)



