![]() |
| Tangkapan layar dari akun @semachintyaa |
inijabar.com, Kota Bekasi - Kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini penyakit tidak menular kronis, seperti hipertensi dan diabetes, menjadi kunci utama dalam mencegah kerusakan organ permanen.
Keterlambatan dalam mengenali indikasi klinis awal sering kali membuat pasien baru terdiagnosis saat kondisi organ tubuh, khususnya ginjal, telah memasuki fase kritis atau stadium akhir.
Urgensi pemeriksaan kesehatan berkala tersebut, tecermin dari kisah perjuangan seorang perempuan asal Bekasi bernama Sema (33). Melalui akun TikTok pribadinya @semachintyaa, yang membagikan pengalaman medisnya menjalani prosedur cuci darah rutin setelah divonis mengidap gagal ginjal stadium 5 sejak tahun 2024 silam, yang kini tengah viral di jagat maya.
Sema mengonfirmasi, bahwa kerusakan fungsi ginjal yang dialaminya dipicu oleh riwayat penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi), yang tidak terkontrol dengan baik.
"Gejala yang aku rasain sebelum divonis gagal ginjal stadium 5. Ada banyak lebam di badan, munculnya kantung mata yang tidak hilang-hilang karena penumpukan cairan, tidak nafsu makan sama sekali, penurunan berat badan, pucat, mual, dan muntah," ungkap Sema, Sabtu (11/7/2026).
Melalui konten edukasi digitalnya, Sema menegaskan bahwa motivasi utamanya bercerita bukan untuk memicu ketakutan massal di media sosial. Sebaliknya, ia ingin mendorong publik agar lebih peka terhadap sinyal-sinyal bahaya yang dikirimkan oleh tubuh sebelum terlambat.
"Tapi please banget kalian jangan parnoan ya. Niat aku sharing agar kalian lebih aware sama badan kalian. Jika kalian punya riwayat hipertensi, diabetes, asam urat, dan tanda-tanda seperti aku, enggak ada salahnya untuk cek darah," tutur Sema.
Ibu satu anak ini tidak menampik, bahwa menjalani terapi pengganti ginjal berupa hemodialisis (cuci darah), merupakan perjalanan medis jangka panjang yang sangat menguras energi fisik dan psikologis.
Dalam menghadapi fase berat ini, Sema mengaku faktor penguat terbesar dalam hidupnya adalah kehadiran sang anak yang masih berusia 5 tahun, serta dukungan moral tanpa henti dari ekosistem keluarga besarnya.
"Karena gagal ginjal ini berobatnya jangka panjang, saya sangat terbantu dengan bantuan yang hadir. Bukan soal materi, tapi kehadiran keluarga untuk membantu saya dalam mengurus anak maupun dalam mengantar ke rumah sakit dan lainnya sangat membantu," pungkas Sema. (Pandu)



