![]() |
| Ilustrasi |
inijabar.com, Kota Bekasi - Laju inflasi bulanan di Kota Bekasi dilaporkan mulai melandai, seiring dengan penurunan harga sejumlah komoditas pangan strategis di pasar tradisional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), indeks harga konsumen di wilayah mitra Jakarta ini melambat ke angka 0,25 persen secara bulanan (month-to-month), lebih rendah dibandingkan catatan bulan sebelumnya yang menyentuh 0,28 persen.
Penurunan tensi inflasi ini terjadi di tengah momentum libur sekolah, yang berimplikasi pada penghentian sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG). Fluktuasi ini membawa dampak positif bagi terkoreksinya harga bahan pokok di pasaran seperti cabai, daging ayam, hingga telur ayam ras.
Analis Perdagangan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kota Bekasi, Eko Wijatmiko, membenarkan terjadinya tren penurunan harga di sejumlah komoditas pangan utama berdasarkan pemantauan berkala di lapangan.
"Untuk pemantauan inflasi, harga sudah mengalami penurunan mulai dari cabai, telur hingga daging ayam," ujar Eko saat dihubungi via WhatsApp, Jumat (10/7/2026).
Merujuk pada data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) setempat, harga daging ayam ras kini turun ke angka Rp 34.000 dari yang sebelumnya menyentuh Rp 37.000 per kilogram.
Penurunan serupa terjadi pada telur ayam ras yang kini bertengger di kisaran Rp 24.750 per kilogram, serta cabai rawit merah yang melandai ke harga Rp 55.000 setelah sempat melonjak hingga Rp 70.000 per kilogram.
Guna mengantisipasi lonjakan harga susulan dan menjaga daya beli masyarakat agar tetap stabil, Pemerintah Kota Bekasi menjalin sinergi lintas instansi untuk mematangkan langkah intervensi pasar.
"Melalui operasi pasar murah kami berharap daya beli masyarakat tetap terjaga sekaligus mengendalikan pergerakan harga. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung di 12 kecamatan pada periode 10 hingga 27 Juli 2026," kata Eko.
Di sisi lain, Kepala BPS Kota Bekasi, Robert Ronytua Pardosi, menjabarkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru menjadi penyumbang utama deflasi pada periode ini. Sebaliknya, komoditas sekunder seperti bensin dan emas perhiasan masih menjadi jangkar penyumbang inflasi bulanan.
"Secara kumulatif, inflasi tahun kalender Kota Bekasi mencapai 1,71 persen, sedangkan untuk inflasi tahunan (year-on-year) berada di angka 3,13 persen," ucap Robert melalui pesan WhatsApp.
Mengenai adanya spekulasi yang mengaitkan penurunan harga pangan dengan jeda operasional program makan gratis dari pemerintah pusat, akademisi menilai fenomena tersebut masih perlu dikaji lebih mendalam.
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Mulia Pratama, Andi Muhammad Sadli, mengingatkan agar pengambil kebijakan tidak terburu-buru menyimpulkan korelasi tunggal, antara mandeknya program MBG dengan stabilitas harga pasar.
“Bisa saja ada pengaruhnya. Tapi kita tidak bisa serta-merta mengaitkan berhentinya MBG secara langsung. Perubahan harga pangan lebih banyak dipengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan di pasar, termasuk musim panen dan pola distribusi barang,” jelas Andi.
Andi menambahkan, hal paling krusial yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah saat ini adalah memperketat pengawasan stok logistik di gudang-gudang penyuplai.
"Skema pemantauan pasokan yang akurat, dinilai jauh lebih efektif agar bentuk intervensi harga yang diambil, kelak bisa berjalan tepat sasaran," pungkasnya. (Pandu)



