Ratusan Siswa Keracunan MBG di Cipongkor Juga Sasar Siswa Paud dan Madrasah

Redaktur author photo
Bupati Bandung Barat Jeje Ritchi Ismail

inijabar.com, Bandung Barat- Kasus ratusan siswa dari berbagai sekolah di wilayah Cipongkor yang keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam dua kali gelombang dalam waktu dua hari Senin dan Selasa (23_24/9/2025)

Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail menyatakan, pemerintah kabupaten resmi menetapkan kasus dugaan keracunan massal MBG sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

“Jadi sekarang juga kita sudah menetapkannya sebagai statusnya KLB supaya penangannya lebih cepat dan juga lebih menyeluruh,”ujarnya.

Bersama instansi terkait, kata Jeje, tengah melakukan investigasi terhadap dapur yang menyajikan hidangan MBG, sekaligus menutup sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Cipongkor.

“Mulai dari perizinan hingga standarisasi pengelolaan makanan harus kita cek. Kalau memang belum layak, ya kita lakukan perbaikan. Khusus dapur di Cipongkor ini kita tutup dulu untuk investigasi,”tuturnya.

Dia juga menuturkan,  akan mengevaluasi seluruh 85 dapur MBG di Bandung Barat karena hingga saat ini belum ada satupun yang memiliki sertifikasi sehat.

Evaluasi menyeluruh dianggap penting agar standar keamanan pangan benar-benar dipenuhi sebelum program dilanjutkan.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Cipongkor Yuyun Sarihotimah mencatat, total korban keracunan MBG sejak Senin hingga Rabu pagi mencapai 411 pelajar mulai dari jenjang PAUD hingga SMA/SMK sederajat.

Dari jumlah itu, 364 orang menjalani rawat jalan, sementara 47 orang masih dirawat inap di RSUD Cililin, Puskesmas Cipongkor, GOR Kecamatan Cipongkor, dan RSIA Anugrah.

Keluhan yang dialami para siswa di antaranya pusing, mual, muntah, sesak napas, dan kejang-kejang.

Bahkan, ada korban yang buang air besar hingga berdarah.

“Sampai Rabu (24/9) pagi ini, ada 411 orang terdampak keracunan MBG. 364 masih dirawat jalan dan 47 rawat inap,” terangnya. 

Senada dikatakan, Pelaksana Tugas Kadisdik KBB Dadang A. Sapardan menjelaskan bahwa keracunan gelombang kedua berasal dari dapur yang berbeda dengan kejadian sebelumnya.

“Ternyata ini dapur yang berbeda dengan lokus sekolah yang berbeda pula,” ujarnya dilansir Kumparan, Rabu (24/9/2025).

Korban gelombang kedua berasal dari siswa SMK Karya Perjuangan Cipongkor dan MTS Manurul Huda.

Menu MBG yang disantap pun berbeda dari hidangan pada kasus sebelumnya.

Adapun keracunan gelombang pertama menimpa siswa dari SMK Pembangunan Bandung Barat (PBB), MTS Darul Fiqri, dan SD Negeri Sirnagalih.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini