![]() |
| Wihaji (batik) dan Ranny Fadh A. Rafiq (busana hitam) berfoto bersama usai sosialisasi. |
inijabar.com, Kota Bekasi - Kota Bekasi berhasil menekan angka prevalensi stunting hingga hanya 2 persen atau sekitar 3.000 balita dari ratusan ribu anak. Capaian tersebut dijadikan contoh keberhasilan program pencegahan stunting di Indonesia.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga serta Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Wihaji, mengapresiasi pencapaian tersebut dalam kegiatan sosialisasi percepatan penanggulangan stunting di Kota Bekasi, Rabu (22/10/2025).
"Kota Bekasi ini contoh bagus. Tapi meskipun angkanya kecil, 3.000 anak itu tetap punya hak. Jangan sampai mereka mengalami stunting," kata Wihaji.
Wihaji menjelaskan, prevalensi stunting nasional saat ini berada di angka 19,8 persen. Jawa Barat sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia menjadi prioritas program penurunan stunting, meski angkanya mulai menunjukkan perbaikan.
Menurutnya, kunci utama penurunan stunting adalah mengatasi masalah asupan gizi sejak dini. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto menjadi strategi utama pemerintah.
"Minimal satu penyebab ini kita selesaikan dulu, yaitu asupan gizi. Program MBG adalah perintah Presiden Prabowo kepada saya untuk mendata, mendistribusikan, mengevaluasi, dan mengedukasi masyarakat, khususnya ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD," jelas Wihaji.
Terpantau, Kegiatan sosialisasi tersebut turut dihadiri Anggota Komisi IX DPR RI, Ranny Fadh A. Rafiq, yang menekankan pentingnya kolaborasi legislatif dan eksekutif dalam menekan angka stunting secara nasional.
Ranny menilai, program MBG berperan strategis dalam mewujudkan target zero stunting nasional, terutama dengan perluasan layanan di posyandu melalui Subsidi Pangan Bergizi Gratis (SPPG).
"Kalau dapur MBG lebih memadai, ini langkah bagus untuk mencegah stunting. Program MBG menjadi langkah strategis pemerintah dalam mewujudkan target zero stunting nasional," ujar Ranny.
Ia menyambut positif perluasan program MBG di posyandu yang menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang tidak terdaftar di PAUD. Dengan perluasan sasaran ini, Ranny berharap jumlah penerima manfaat meningkat dan angka stunting terus menurun.
Ranny mengungkapkan, pihaknya secara rutin melakukan kunjungan lapangan untuk mendengar langsung kebutuhan masyarakat terkait program stunting.
"Kita kolaborasi, baik saat reses maupun sosialisasi. Kita dengar langsung dari ibu-ibu, di mana wilayah angka stunting tinggi dan seperti apa bantuan yang diperlukan," pungkasnya.
Senagai informasi, kegiatan edukasi dan sosialisasi percepatan penanggulangan stunting tersebut, merupakan kolaborasi antara DPR RI melalui Komisi IX dengan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN. (Pandu)



