inijabar.com, Ciamis- Rencana penggabungan wilayah Ciamis Selatan ke Kota Banjar sesekali muncul dalam diskusi publik. Secara geografis, kultur, dan alur ekonomi, kawasan paling selatan Kabupaten Ciamis memang lebih dekat ke Banjar dibanding ke pusat pemerintahan Kabupaten Ciamis.
Sejumlah tokoh menilai penggabungan itu dapat menjadi solusi atas stagnasi pembangunan dan terbatasnya kapasitas fiskal Kota Banjar selama ini.
Tokoh muda Kota Banjar, Boni Mastriolani, mengatakan Kota Banjar tengah menghadapi kondisi stagnan yang berdampak pada pelayanan publik. Minimnya pendapatan asli daerah (PAD) disebut menjadi faktor utama.
“APBD Kota Banjar kecil, dan sekitar 50 persen habis untuk belanja pegawai. Kalau hanya mengandalkan transfer pusat, Banjar akan sulit berkembang dan terus terjebak stagnasi,” kata Boni, Sabtu, 15 November 2025 di Kota Banjar.
Boni menilai penggabungan Kota Banjar dengan lima kecamatan di wilayah selatan Ciamis-Banjarsari, Lakbok, Purwadadi, Banjaranyar, dan Pamarican—dapat memperluas basis ekonomi dan budaya yang selama ini tidak dimiliki Kota Banjar.
Jumlah penduduk di lima kecamatan ini menurut data BPS 2015 mencapai 320.000 jiwa.
“Saya menyambut positif rencana penggabungan ini. Banyak potensi yang bisa dikembangkan bersama, mulai dari pariwisata, akulturasi budaya, hingga peningkatan PAD,” ujarnya.
Namun gagasan penggabungan dua wilayah itu punya dua sisi: peluang percepatan pembangunan, tetapi juga risiko politik-administratif yang tidak kecil.
Potensi Positif
1. Akses Pelayanan Publik Lebih Dekat
Beberapa kecamatan di Ciamis Selatan jaraknya lebih dekat ke pusat Kota Banjar dibanding ke Ciamis. Jika bergabung:
Pembuatan KTP, layanan kesehatan, pendidikan, perizinan jadi lebih cepat.
Mobilitas warga meningkat karena orientasi aktivitas harian memang banyak mengarah ke Banjar.
[cut]
2. Peluang Pertumbuhan Ekonomi Baru
Kota Banjar yang kecil (luas ±113 km²) memiliki ruang ekspansi terbatas. Masuknya Ciamis Selatan, memperluas wilayah industri, perdagangan, dan pariwisata.
Membuka pasar baru bagi UMKM Banjar dan Ciamis Selatan.
Transportasi dan logistik lebih efisien karena Banjar berada di jalur perbatasan Jabar-Jateng.
3. Penguatan Basis Fiskal Kota Banjar
Jika wilayah tambahan memiliki: jumlah penduduk besar, potensi pajak dan retribusi lebih tinggi, maka Pendapatan Asli Daerah (PAD) Banjar bisa meningkat dan berdampak pada pembangunan lebih cepat.
4. Pembangunan Infrastruktur Lebih Merata
Banjar membutuhkan perluasan wilayah, sementara Ciamis Selatan membutuhkan sentuhan pembangunan yang lebih dekat.
Hasilnya: Jalan penghubung wilayah selatan bisa jadi prioritas. Kawasan pariwisata (alam, agrowisata) punya peluang dikelola lebih profesional.
Potensi Negatif
1. Konflik Politik dan Administratif
Penggabungan wilayah memerlukan: persetujuan DPRD Kabupaten Ciamis, DPRD Kota Banjar, Pemprov, hingga Kemendagri, kajian potensi wilayah, persetujuan warga melalui mekanisme konsultasi publik.
Kabupaten Ciamis kemungkinan keberatan melepas wilayah, terutama jika; wilayah itu berpenduduk padat, menyumbang PAD atau potensi ekonomi cukup besar.
2. Risiko Ketimpangan Pembangunan
Ciamis Selatan bisa jadi 'beban baru' bagi Banjar karena: Banjar adalah kota kecil dengan PAD yang terbatas.
Besarnya wilayah tambahan memaksa Banjar menganggarkan infrastruktur dasar (jalan, irigasi, fasilitas publik) yang mahal.
Jika fiskal Banjar tidak kuat, pembangunan justru melambat.
3. Identitas dan Sentimen Warga
Perubahan wilayah administratif bisa memunculkan: penolakan dari sebagian warga yang merasa lebih cocok tetap dengan Ciamis, resistensi dari elit lokal yang kehilangan pengaruh di tingkat kabupaten, ketidakpastian layanan selama masa transisi.
4. Dampak pada Struktur Pemerintahan
Penggabungan berarti: pemecahan kecamatan, penataan ulang kelurahan/desa, pergeseran ASN dan anggaran, yang sering memakan waktu lama dan menimbulkan ketidakpastian tata kelola.
5. Potensi Konflik Pembagian Aset dan Anggaran
Isu sensitif seperti: aset sekolah, puskesmas, pasar, lahan pemerintah, sering menjadi sumber tarik-menarik antar daerah.
Penggabungan Ciamis Selatan ke Kota Banjar secara teoritis bisa menguntungkan, terutama bagi warga yang selama ini merasa jauh dari pusat pelayanan Kabupaten Ciamis. Banjar juga diuntungkan karena bertambah luas dan memiliki potensi ekonomi baru.
Namun hambatan politik, administratif, dan fiskal sangat besar. Tanpa kajian komprehensif dan kesepakatan antardaerah, wacana ini lebih mungkin menjadi diskusi publik ketimbang realitas kebijakan.(*)





