![]() |
| Salah satu pedagang nasi kucing atau angkringan di Bekasi |
DI BANYAK sudut kotadari Jogja, Solo, hingga Bekasi dan Jakarta, kita lebih sering mendengar ajakan sederhana: “Makan nasi kucing, yuk”, bukan “Makan angkringan”.
Padahal, nasi kucing hanyalah satu menu, sementara angkringan adalah semesta kecil tempat budaya, ekonomi rakyat, dan romantika malam bertemu.
Mengapa ingatan kolektif justru melekat pada nasi kucing, bukan angkringan?
Jawabannya tak sesederhana soal nama, tetapi tentang simbol, kelas sosial, dan pengalaman bersama.
Nasi Kucing: Nama yang Merakyat dan Menggoda Imajinasi
“Nasi kucing” bukan istilah resmi kuliner. Istilah ini muncul di Semarang. Nama Nasi Kucing lahir dari candaan: porsi kecil, sederhana, murah diibaratkan makanan untuk kucing. Tapi justru di situlah kekuatannya. Nama ini mengundang senyum, membumi, dan langsung memberi gambaran.
Dalam dunia komunikasi, yang diingat publik bukan struktur, melainkan sensasi. “Angkringan” adalah istilah tempat. “Nasi kucing” adalah pengalaman.
Orang tidak berkata, “Saya nongkrong di angkringan selama dua jam”, melainkan “Makan nasi kucing sampai kenyang cuma sepuluh ribu”. Yang diingat adalah aksi dan rasa, bukan wadahnya.
Angkringan: Terlalu Umum, Terlalu Sunyi
Kata “angkringan” berasal dari bahasa Jawa, merujuk pada gerobak sederhana tempat menjual makanan. Ia netral, nyaris administratif. Tak ada kejutan di sana.
Angkringan bisa menjual apa saja: nasi kucing, sate usus, gorengan, wedang jahe. Tapi karena terlalu luas, ia kalah bersaing secara memori dengan satu menu ikonik yang punya cerita kuat.
Dalam opini ini, angkringan adalah panggung, sementara nasi kucing adalah aktor utama.
Nasi Kucing sebagai Simbol Kelas dan Perlawanan Sunyi
Lebih jauh, nasi kucing bukan sekadar makanan. Ia adalah simbol.
Simbol mahasiswa akhir bulan
Simbol buruh malam
Simbol obrolan tanpa jas dan dasi
Simbol perlawanan sunyi terhadap mahalnya hidup kota
Menyebut “nasi kucing” berarti menyebut kesederhanaan yang dipilih, bukan dipaksakan. Ia tidak mengiming-imingi kenyang mewah, tapi kebersamaan murah dan hangat.
Tak heran, ketika angkringan naik kelas—berubah jadi kafe, diberi Wi-Fi, menu modern—yang tetap dicari orang justru “rasa nasi kucingnya masih kayak dulu atau enggak?”
Media, Bahasa, dan Ingatan Kolektif
Media ikut berperan membesarkan nama nasi kucing. Judul berita lebih menggoda ketika menulis:
“Nasi Kucing Masih Jadi Favorit Anak Muda”
dibanding: “Eksistensi Angkringan di Tengah Gempuran Kafe”
Bahasa memilih yang paling hidup. Dan nasi kucing, dengan segala kerendahannya, lebih hidup daripada angkringan yang terdengar teknis.
Pada akhirnya, publik mengingat yang kecil, unik, dan personal. Nasi kucing memenuhi semuanya. Ia bisa dibicarakan, ditertawakan, dirindukan.
Angkringan tetap ada, menjadi rumahnya. Tapi seperti banyak rumah lain, namanya jarang disebut yang dirindukan justru hidangan sederhana di atasnya.
Dan mungkin itu pelajaran penting dalam hidup yang makin mahal dan cepat, yang bertahan di ingatan bukan yang megah, melainkan yang jujur, kecil, dan pernah menemani lapar kita di malam hari.
Opini Ditulis : Tim Redaksi




