Sukasari Diklaim Miniaturnya Bogor Timur

Redaktur author photo

 


inijabar.com, Kota Bogor- Di balik kepadatan dan hiruk-pikuknya, Kelurahan Sukasari justru menjelma sebagai laboratorium hidup dinamika urban di Kota Bogor. Dengan luas hanya sekitar 48 hektare, wilayah ini memadatkan hampir seluruh wajah perkotaan, tekanan penduduk, geliat ekonomi, hingga inovasi berbasis masyarakat yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Lurah Sukasari, Surya Hasan, terang-terangan menyebut wilayahnya bukan sekadar kelurahan biasa. Ia menyebut Sukasari sebagai “miniatur Bogor Timur” yang memuat seluruh kompleksitas kota dalam satu kawasan kecil.

“Di sini semua ada. Kepadatan penduduk tinggi, aktivitas ekonomi bergerak cepat, dan tantangan sosial muncul hampir setiap hari. Tapi justru itu yang memaksa kami berinovasi,” ujar Surya.

Dengan jumlah penduduk mencapai 12.246 jiwa, tekanan terhadap ruang dan lingkungan menjadi persoalan nyata. Namun alih-alih terjebak pada masalah klasik, Sukasari memilih jalur inovasi. Salah satunya melalui pengelolaan sampah organik berbasis budidaya maggot—sebuah solusi yang kini mulai menunjukkan dampak ekonomi langsung.

Bekerja sama dengan Bank Sampah Siliwangi dan Kelompok Tani dan Ternak (KTD) Mulya Tani, limbah rumah tangga diolah menjadi pakan ikan bernutrisi tinggi. Hasilnya bukan sekadar pengurangan sampah, tetapi juga efisiensi produksi di sektor perikanan.

“Dulu panen lele dan nila bisa sampai dua setengah bulan. Sekarang sekitar satu setengah bulan sudah bisa dipanen,” kata Surya.

Efek berantainya terasa luas. Produk turunan seperti maggot segar, maggot kering, hingga pupuk cair kini menjadi komoditas baru yang membuka peluang usaha bagi warga. Sampah yang dulunya menjadi beban, kini berubah menjadi sumber pendapatan.

Secara geografis, posisi Sukasari juga menjadi keunggulan tersendiri. Terletak di jalur penghubung strategis menuju Bogor Selatan, Puncak, hingga Sukabumi, kawasan ini menjadi simpul pergerakan manusia dan ekonomi. Aktivitas perdagangan diperkuat dengan keberadaan Pasar Gembrong dan kawasan Teras Sukasari yang terus berkembang.

Tak hanya itu, Sukasari diam-diam menjadi dapur bagi kuliner legendaris Bogor. Sejumlah makanan khas yang populer di kawasan Suryakencana, seperti cungkring, ternyata diproduksi dari wilayah ini. Ini menjadikan Sukasari bukan hanya pusat distribusi, tetapi juga pusat produksi.

Sektor industri rumahan pun tetap bertahan di tengah tekanan modernisasi. Mulai dari sabun tradisional, kerajinan sandal, hingga produk rajut, semuanya menjadi penopang ekonomi skala kecil yang tetap hidup.

Di sisi lain, wajah sosial Sukasari juga mengalami transformasi. Kehadiran Sentra Cipta Mandiri sebagai pusat rehabilitasi warga dengan gangguan jiwa (ODGJ) menjadi langkah konkret penanganan masalah sosial berbasis komunitas. Fasilitas ini berdiri di atas lahan hibah pemerintah daerah, menandakan adanya kolaborasi lintas sektor.

Penguatan ekonomi kolektif juga dilakukan melalui Koperasi Merah Putih yang kini mulai mengelola berbagai unit usaha, dari distribusi air minum hingga kebutuhan pokok warga. Model ini menjadi upaya membangun kemandirian ekonomi di tengah keterbatasan lahan dan sumber daya.

Namun, tantangan besar tetap membayangi. Sekitar 90 persen lahan di Sukasari berstatus milik pemerintah atau sewa, membuat kepastian hunian menjadi isu krusial. Program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) menjadi salah satu solusi, dengan 17 unit rumah telah diperbaiki sepanjang 2025.

Ke depan, jumlah tersebut berpotensi bertambah hingga 60 unit melalui kolaborasi dengan Yayasan Buddha Tzu Chi.

Di tengah segala keterbatasan, Sukasari menunjukkan satu hal yakni kawasan padat bukan berarti tanpa masa depan. Justru dari tekanan itulah lahir inovasi, kolaborasi, dan model pembangunan berbasis warga yang bisa menjadi rujukan bagi wilayah urban lainnya.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini