![]() |
| Kamar salah satu hotel di Kota Bekasi |
inijabar.com, Kota Bekasi - Sektor pariwisata di Kota Bekasi menunjukkan tanda-tanda melemah. Data terbaru mengungkap tingkat hunian hotel masih jauh dari ideal, meski sempat mengalami kenaikan tipis.
Pada Februari 2026 data BPS (Badan Pusat Statistik) mencatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di Kota Bekasi hanya berada di angka 46,58 persen. Artinya, lebih dari separuh kamar hotel di kota penyangga ibu kota ini masih kosong.
Angka tersebut memang naik 2,31 poin dibanding Januari 2026 yang hanya 44,27 persen, namun jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, justru mengalami penurunan tipis.
Kondisi ini makin diperparah dengan turunnya jumlah wisatawan nusantara. Sepanjang Februari 2026, tercatat hanya 1,18 juta perjalanan ke Kota Bekasi anjlok 8,13 persen dibanding bulan sebelumnya.
Penurunan ini menjadi alarm bagi geliat ekonomi sektor jasa, khususnya perhotelan dan usaha pendukung pariwisata.
Tak hanya jumlah kunjungan, durasi tinggal wisatawan juga tergolong singkat. Rata-rata tamu hanya menginap 1,53 malam, dengan wisatawan domestik bahkan lebih rendah di angka 1,51 malam.
Ini menunjukkan Kota Bekasi belum cukup kuat menahan wisatawan untuk tinggal lebih lama.
Jika dibandingkan dengan daerah lain di , posisi Kota Bekasi juga belum kompetitif. Tingkat hunian hotel bintang tertinggi justru diraih Karawang dengan 57,56 persen, disusul Kota Depok. Kota Bandung, Kota Bogor dan Kota Bekasi.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar, apakah Kota Bekasi hanya menjadi kota transit tanpa daya tarik wisata kuat? Minimnya destinasi unggulan dan rendahnya aktivitas wisata berbasis pengalaman diduga menjadi faktor utama lesunya okupansi hotel.
Jika tidak ada langkah agresif dari pemerintah daerah dan pelaku industri, Kota Bekasi berisiko semakin tertinggal dalam peta pariwisata regional. Saat kota lain berlomba menarik wisatawan, Kota Bekasi justru masih berjuang mengisi kamar-kamar hotelnya yang kosong.(*)



